Monday, June 27, 2011

Kiat menggandakan Untung dalam Bertani Cabai

Jerih payah Pak Sukarman (55) itu berhasil dan kini menjadikan Pantai Bugel sebagai kawasan sentra penghasil cabai. Hasil panen cabai dari lahan pasir justru lebih bagus. Warnanya mengkilat, lebih tahan hama dan bia dipetik berkali-kali. Hasil panen lebih banyak dibanding cabai yang ditanam di sawah atau kebun.
Kiat menggandakan Untung dalam Bertani Cabai

Lahan pesisir dulu dilirik orang. Dianggap tak menghasilkan. Tapi ternyata sangat bagus untuk dimanfaatkan sebagai area tanaman cabai. Bahkan produksi cabai di lahap berpasir tersebut, cukup fantastis.

Sukarman (55) warga desa Bugel II, Panjatan, Kulon Progo menjadi pemuka yang mampu memanfaatkan lahan pasir Pantai Bugel untuk budidaya cabai. Jerih payahnya itu berhasil dan kini menjadikan Bugel sebagai kawasan sentra penghasil cabai. Hasil panen cabai dari lahan pasir justru lebih bagus. Warnanya mengkilat, lebih tahan hama dan bia dipetik berkali-kali. Hasil panen lebih banyak dibanding cabai yang ditanam di sawah atau kebun.

Setiap musim panen, warga desa Bugel II bisa menghasilkan sekitar 60 – 80 ton cabai per hari dari luas lahan pasir 900 hektar. Dikelola petani lahan pasir di desa yang terdiri dari 30 dusun dan 4 kecamatan,” kata Sukarman

Lahan pasir di tepian Pantai Bugel, Kulonprogo, sekarang sudah menjadi penghasil cabai yang tekrenal. Setiap masa panen, desa Bugel selalu ramai oleh para pedagang dari berbagai daerah. Para petani tak perlu repot menjual hasil panen cabainya ke tempat jauh. Cukup mengumpulkan hasil panennya itu di pasar lelang Aossiasi Pasar Tani (Aspartan) di desa masing-masing.

Pada pedagang yang dating itulah nantinya yang mendistribusikan cabai dari desa Bugel ke berbagai kota besar seperti Semarang, Jakarta, Batam, Riau dan banyak lagi,” tambah Sukarman.

Kesuksesan para petani cabai lahan pasir di desa Bugel, sekiranya menjadi kabar gembira di tengah banyak kisah para petani lain yang senantiasa mengalami kerugian.

Faktanya, petani cabai dea Bugel hampir tak pernah mengalami kerugian. Padahal, kesulitan menanam cabe di lahan sawah atau kebun pada umumnya juga harus dihadapi oleh para petani cabai lahan pasir. Belum lagi tantangan dari aspek bisnis, di mana harga cabai bisa mendadak turun drastis bak pesawat kehilangan sayap.

Semua rintangan itu memang harus dihadapi. Misalnya, curah hujan tinggi dan serangan hama. Juga perubahan harga yang bisa sangat fluktuatif. Itu semua sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari petani cabe. Tetapi, di tengah rintangan itu sebenarnya ada berkah yang lebih menguntungkan daripada sekadang menjual hasil panen cabai,” beber Sukarman.

Peluang Bibit

Jerih payah Pak Sukarman (55) itu berhasil dan kini menjadikan Pantai Bugel sebagai kawasan sentra penghasil cabai. Hasil panen cabai dari lahan pasir justru lebih bagus. Warnanya mengkilat, lebih tahan hama dan bia dipetik berkali-kali. Hasil panen lebih banyak dibanding cabai yang ditanam di sawah atau kebun.Sukarman bukanlah insinyur pertanian, ia bahkan gagal menyelesaikan kuliah di Yogyakarta karena 3 kali tak lolos ujian Negara. Tahun 1983, Sukarman harus rela meninggalkan bangku kuliah tanpa ijazah.

Tiga kali taklulus ujian Negara itu sudah menghabiskan banyak uang. Sementara, kelima adiknya masih membutuhkan biaya sekolah. “Saya harus mengalah. Biar adik-adik saya juga bila melanjutkan sekolah,” katanya.

Usai itu, Sukarman berusaha mencari kerja di kota. Dua tahun lamanya tak mendapatkan pekerjaan. Alhasil, Sukarman pulang ked ea. Tahun 1985, Sukarman baru terbuka inspirasinya ketika melihat sebatang pohon cabai tumbuh di lading pasir. Tidak dirawat, tetapi bisa berbuah. Sukarman tergerak untuk membudidayakan cabai di lahan pasir itu.

Waktu itu saya berpikir. Kalau dirawat dengan baik pasti pohon cabe itu bisa tumbuh subur di lahan pasir,” kenangnya.

Bermula dari ide sepele, dan pada tahun itu juga, dia memulai mencoba menggarap usahanya. Dengan bermodalkan lahan seluas 300 meter persegi, Sukarman berhasil membuktikan keyakinannya. “Saya masih ingat, wakti itu panen sebanyak 17 kilogram cabai. Hasil itu sudah banyak sekali, mengingat dulu belum ada orang menanam cabai di lahan pasir sebagus itu hasilnya. Harga cabai wakti itu juga masih Rp. 300,” ungkapnya.

Berawal dari kesuksesan itu, Sukarman kian melebarkan lahan pasirnya. Seiring itu, warga desa lainnya ikut-ikutan. Lalu ia memimpinnya dan menggerakkan warga untuk membuat sumur guna menyiram lahan cabai. Dia menjelaskan, pohon cabai bisa tumbuh subur dan membuahkan hasil yang baik karena diberi pupuk kandang.

Kini, Sukarman sudah sukses. Penghasilannya jutaan rupiah per bulan. Baik di musim harga cabai tinggi maupun jeblok. Pasalnya, Sukarman menerapkan strategi musim. “Kalau harga cabe sedang baik, pohon cabe langsung dipupuk sehabis dipetik. Pohon cabe di lahan pasir bisa dipetik sampai 30-an kali, dengan jeda waktu petik 5 hari. Tetapi kalau harga cabai sedang anjlok, lebih baik poohon cabai diganti dengan yang baru. Sementara menunggu harga stabil, pohon cabai yang baru sudah berbuah. Hasilnya optimal dan harganya maksimal,” jelasnya.

Ditambahkan, selama masa harga jual cabai anjlok, dirinya memanfaatkan bisnis bibit cabai. Menurutnya, hasil dari penjualan bibit cabai justru lebih besar ketimbang menjual cabai. “Biasanya, penjualan bibit melonjak ketika curah hujan tinggi. Sebab, banyak petani yang gagal membuat bibit cabai sendiri. Itulah mengapa, curah hujan tinggi dan harga cabai anjlok itu bukan masalah,” tegasnya.

Sukarman mengaku, belum lama menjual bibit pohon cabai seluas 3.000 meter persegi yang terbagi dalam 300 bedeng. Satu bedeng bibit pohon cabe dijual sebesar Rp. 100 ribu. Dengan harga setinggi itu, Sukarman mengaku meraup untung besar. Pasalnya, untuk membuat bibitnya tidak sulit. Hanya tinggal memilih biji cabai yang bagus, dikeringkan lalu disemai. Masa semai cabai selama 1 bulan. Setelah ditanam di lahan, 75 hari kemudian mulai bisa dipanen. Petikan pertama memang belum begitu banyak. Baru pada petikan kesepuluh sampai puncaknya ke dua belas, hasilnya baru melimpah. “Kalau harga cabai sedang bagus usai dipetik pohon cabe dipupuk. Lima hari kemudian bisa dipetik lagi. Begitu seterusnya sampai 20 – 30 kali petik. Itu kalau harga sedang bagus, sehingga tidak rugi pupuk”, pungkasnya.



No comments:

Post a Comment

Waktu begitu cepat berlalu mengiring langkah dalam cerita. Terbayang selalu tatapanmu dalam lingkaran pemikiran positif ku. Para pembaca blog Warga Desa (https://warga-desa-worlds.blogspot.com) adalah teman yang terindah. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar.

Label

Agama Air Minum Alat Musik Alumunium Angklung Artis Asmara Automotif Bahan Bakar Bali Bambu Bandung Bank Bank Sampah Barang Bekas Batam Batik Becak Beras Besakih Biola Blogspot Boneka Buah-buahan Budaya dan Tradisi Buka Lapak Buku Bunga Burger Burung Cafe Charlie Tjendapati CNBC Cobek Dandung Santoso Daur Ulang Desa Desain Dodol E-mail Eceng Gondok Edie Juandie Ekonomi dan Perdagangan Es Krim Facebook Flipboard Flora dan Fauna Fruit Carving Furnitur Gadget Gamelan Garam Gerai Gerobak Gitar Google Plus Gula Hari Raya Harian Merdeka Haryadi Chou Hewan Hiburan dan Wisata Hidayah Anka Hidroponik Hijab Hotel http://www.duahari.com Hukum dan Politik Indra Karyanto Instagram Internet Internet Marketing ITB Jagung Jajanan Jamu Jamur Tiram Jangkrik Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Jepang Kain dan Pakaian Kaleng Kalimantan Kamera Kapal Laut Karaoke Kartun Kecantikan Kecap Keju Kelautan Kelinci Kemasyarakatan Kendaraan Kerajinan Kereta Kertas Kiat dan Tip Kisah Hidup Koki Komputer dan Teknologi Kopi Koran Kuda Pustaka Kuliner Kumpulan Kurir LA Time Laptop Si Unyil Lidah Buaya Linkedin Liputan 6 Logam Lukisan Kayu Madu Mahasiswa Mainan Anak-Anak Makanan dan Minuman Malang Martabak Masyarakat dan Persoalannya Matras Melukis & Menggambar Metro TV Mineral Miniatur Minyak Atsiri Mitra Mobil Motor Musik Nana Mulyana Narapidana Net TV Ngatmin Biola Bambu Obat dan Kesehatan Olah Raga Ondel-Ondel Online Organik Organisasi Sosial Pameran Panama Papers Pantang Menyerah Papan Selancar Paper Quilling Pariwisata Peluang Usaha Pemulung Pencucian Pendidikan Penelitian Penemuan Penyanyi Penyiar Peralatan Perhiasan Perikanan Permainan Perpustakaan Pertanian dan Perkebunan Perumahan Peternakan Pinterest Plastik Proses Produksi Psikologi dan Mental Putu Gede Asnawa Dikta Puyuh Radio Rancangan Rendang Resep dan Masakan Restoran Robot Roti Salak Sambal Sampah Sandal Sapi Sayur Mayur Sejarah dan Peradaban Sekolah Semarang Seni Seni Pahat Sepatu Sepeda Sindo News Slamet Triamanto Spa Strikingly Suprapto Surabaya Surat Kabar Tahun Baru Tas Tattoo Techno Park Teh Tekhnologi Televisi Telur Terrarium Tukang Cukur Tumang Twitter Venta Agustri Vespa Wanita dan Keindahan Wawancara Wayang Website Wetz Shinoda What's Up Wine Wordpress Yoga Yogyakarta You Tube