Sunday, June 26, 2011

Potret Ketekunan Pemintal Ijuk di Yogyakarta

“Kulo mboten sekolah. Dados sagete naming kados niki (saya tidak sekolah. Jadi bisanya bekerja seperti ini),” pengakuan Mbah Karto Pawiro yang semasa mudanya pernah ikut memanggul senjata naik turun gunung selama 10 hari gerilya di sekitar Gunung Suh Godean. Dia tidak meneruskan menjadi tentara ketika itu, karena orang tua tidak mengizinkan. Orangtuanya takut kehilangan dirinya, selain itu dia juga tidak sekolah.
Potret Ketekunan Pemintal Ijuk di Yogyakarta

Biasa kerja.

Matahari pagi terlihat sangat cerah. Mbah Karto Pawiro (90) memulai aktivitas hariannya dengan mengeluarkan lembaran-lembaran ijuk. Lalu ditumpuk di atas bale-bale kecil. Ijuk, serabut berwarna hitam seperti rambut, tumbuh di pangkal pelepah pokok pohon aren atau enau yang bahasa latinnya arenga pinnate. Dengan duduk selonjor di atas bale-bale, tangan terampil Mbah Karto Pawiro yang punya nama kecil Muserat memintal lembaran ijuk menjadi tali.

Proses pemintalannya sangat sederhana. Memilih-milih lembaran ijuk dengan menggunakan sekerat bilahan bambu. Tapi biarpun begitu, tetap membutuhkan keterampilan khusus yang tidak setiap orang mampu melakukannya.

Pekerjaan langka tersebut membutuhkan kesabaran. Mbah Karto sudah melakoninya sejak berusia 15 tahun. Ketika itu dia hanya membantu orangtuanya. Setelah menikahi Partiah di tahun 1951, ketika itu dia berumur 27 tahun, lantas hidup mandiri dengan menjadi pengrajin tali ijuk sampai sekarang.

Kulo mboten sekolah. Dados sagete naming kados niki (saya tidak sekolah. Jadi bisanya bekerja seperti ini),” pengakuan Mbah Karto Pawiro yang semasa mudanya pernah ikut memanggul senjata naik turun gunung selama 10 hari gerilya di sekitar Gunung Suh, Godean. Dia tidak meneruskan menjadi tentara ketika itu, karena orang tua tidak mengizinkan. Orangtuanya takut kehilangan dirinya, selain itu dia juga tidak sekolah.

Rumiyen njih nate manggen ten Suryawijayan. Nang omah kula dipun obong Landa. Amargi kula gerilya. (Dulu saya pernah tinggal di Suryawijayan. Tapi rumah saya dibakar Belanda, karena saya seorang gerilyawan),” ceritanya sambil memainkan tangan memilin ijuk. Buah perkawinannya dengan Partiah memiliki 5 anak, 2 laki-laki dan 3 perempuan yang kemudian memberinya 13 cucu dan 2 orang buyut. Semua anaknya sudah hidup mandiri. Anak pertamanya menjadi kepala sekolah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ada juga yang jadi pengusaha penggilingan padi.

Meskipun usianya sudah uzur, Mbah Karto Prawiro masih tampak sehat dan cekatan dalam memintal ijuk. Seharinya dia bisa menyelesaikan 15 sampai 20 ikat tali yang jika dijual perikatnya memiliki kisaran Rp. 3.000.

Tali ijuk buatan Mbah Karto Pawiro banyak diminati. Pelanggan biasanya datang sendiri dari Wates, Klaten, dan Purworejo. Ciri khas tali ijuk buatan kakek yang tinggal di Bendosari Sumbersari Moyudan Sleman ini memiliki pilihan yang halus dan kuat, sehingga bila digunakan untuk ngragum (mengikat) tidak mudah pudar dan awet. Dulu selagi tenaganya masih uat, dia menjual tali ijuk di Pasar Semampir Sedayu, sekarang hanya di rumah.

Soal bahan baku, sekarang sulit mencari. Kalau pun ada, harganya mahal, Harga per lembar serat ijuk di pohon Rp. 3.000. Setelah di pasar menjadi Rp. 7.000/kg. Pasca gempa, karena banyak orang membutuhkan, harganya terus meroket. Apalagi sekarang banyak orang asing yang membuat rumah dengan menggunakan ijuk sebagai atapnya, harganya menjadi semakin mahal.

Dulu sewaktu masih muda, dia mencari bahan baku ijuk sampai Ambarawa, Jambu, Temanggung, Wonosobo, Parakan dan Gedono hanya dengan menggunakan sepeda. Berangkat sekitar pukul 04.00 dengan mengambil jalan pintas menuju Tempel. Jika hujan, jalannya becek dan licin. Setelah menyeberangi sungai Krasak sampai Muntilan, dia istirahat. Lalu setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Secang. Di sini pun istirahat sebentar, untuk selanjutnya meneruskan laku sesuai dengan daerah mana yang akan dituju. Proses hunting ijuk bisa berhari-hari tinggal di dalam hutan. Mengambil ijuk dari pokoknya, lantas mengumpulkannya. Setelah dirasa cukup banyak baru pulang.

Bisa tahu kalau daerah-daerah itu banyak pohon aren, diperoleh ketika ikut gerilya keluar masuk hutan semasa perang kemerdekaan 1946. “Ten alas niku njih tumbas, mas. Mboten kok mung mendhet (mengambil ijuk di dalam hutan itu membeli. Bukan Cuma hanya ambil),” tuturnya.

Menurut dia, hutan pada saat itu dikuasi oleh kelompok-kelompok orang. Setiap yang akan mengambil apa saja dari hutan, harus membayar kepada kelompok itu demi keamanan. Mbah Karto mengaku, tidak berani sembarangan mengambil hasil hutan. Ada yang lebih gawat lagi, berani coba-coba mencuri bakalan berabe. Bisa kesambet atau kena teluh Perut bisa melendhung betulan. “Ning kula maan, mas ten riku. Mboten wonten sing wani ngganggu. Pit mawon mboten ical (Di situ saya aman mas. Tidak ada yang berani ganggu. Sepeda ditinggal berhari-hari di sana tidak hilang),” kenang-nya.

Ada pengalaman yang tidak terlupakan selama hidup Mbak Karto Pawiro, sewaktu pulang dari Ambarawa. Sebelum memasuki Secang, karet rem ban sepedanya habis. Karena jalannya menurun, rem blong. Tanpa pikir panjang dia loncat dari sepeda yang sarat muatan ijuk. Sepeda terjungkal menabrak bug (jembatan kecil). Pulangnya terpaksa cari tumpangan truk. Dan harus jalan kaki dari Tempel sampai Moyudan. “Damel duk, saderma nyambung gesang Mas. Nak-anak pun sami mapan Mas,” begitu akunya menutup obrolannya.


“Kulo mboten sekolah. Dados sagete naming kados niki (saya tidak sekolah. Jadi bisanya bekerja seperti ini),” pengakuan Mbah Karto Pawiro yang semasa mudanya pernah ikut memanggul senjata naik turun gunung selama 10 hari gerilya di sekitar Gunung Suh Godean.“Kulo mboten sekolah. Dados sagete naming kados niki (saya tidak sekolah. Jadi bisanya bekerja seperti ini),” pengakuan Mbah Karto Pawiro yang semasa mudanya pernah ikut memanggul senjata naik turun gunung selama 10 hari gerilya di sekitar Gunung Suh Godean.“Kulo mboten sekolah. Dados sagete naming kados niki (saya tidak sekolah. Jadi bisanya bekerja seperti ini),” pengakuan Mbah Karto Pawiro yang semasa mudanya pernah ikut memanggul senjata naik turun gunung selama 10 hari gerilya di sekitar Gunung Suh Godean.











No comments:

Post a Comment

Waktu begitu cepat berlalu mengiring langkah dalam cerita. Terbayang selalu tatapanmu dalam lingkaran pemikiran positif ku. Para pembaca blog Warga Desa (https://warga-desa-worlds.blogspot.com) adalah teman yang terindah. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar.

Label

Agama Air Minum Alat Musik Alumunium Angklung Artis Asmara Automotif Bahan Bakar Bali Bambu Bandung Bank Bank Sampah Barang Bekas Batam Batik Becak Beras Besakih Biola Blogspot Boneka Buah-buahan Budaya dan Tradisi Buka Lapak Buku Bunga Burger Burung Cafe Charlie Tjendapati CNBC Cobek Dandung Santoso Daur Ulang Desa Desain Dodol E-mail Eceng Gondok Edie Juandie Ekonomi dan Perdagangan Es Krim Facebook Flipboard Flora dan Fauna Fruit Carving Furnitur Gadget Gamelan Garam Gerai Gerobak Gitar Google Plus Gula Hari Raya Harian Merdeka Haryadi Chou Hewan Hiburan dan Wisata Hidayah Anka Hidroponik Hijab Hotel http://www.duahari.com Hukum dan Politik Indra Karyanto Instagram Internet Internet Marketing ITB Jagung Jajanan Jamu Jamur Tiram Jangkrik Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Jepang Kain dan Pakaian Kaleng Kalimantan Kamera Kapal Laut Karaoke Kartun Kecantikan Kecap Keju Kelautan Kelinci Kemasyarakatan Kendaraan Kerajinan Kereta Kertas Kiat dan Tip Kisah Hidup Koki Komputer dan Teknologi Kopi Koran Kuda Pustaka Kuliner Kumpulan Kurir LA Time Laptop Si Unyil Lidah Buaya Linkedin Liputan 6 Logam Lukisan Kayu Madu Mahasiswa Mainan Anak-Anak Makanan dan Minuman Malang Martabak Masyarakat dan Persoalannya Matras Melukis & Menggambar Metro TV Mineral Miniatur Minyak Atsiri Mitra Mobil Motor Musik Nana Mulyana Narapidana Net TV Ngatmin Biola Bambu Obat dan Kesehatan Olah Raga Ondel-Ondel Online Organik Organisasi Sosial Pameran Panama Papers Pantang Menyerah Papan Selancar Paper Quilling Pariwisata Peluang Usaha Pemulung Pencucian Pendidikan Penelitian Penemuan Penyanyi Penyiar Peralatan Perhiasan Perikanan Permainan Perpustakaan Pertanian dan Perkebunan Perumahan Peternakan Pinterest Plastik Proses Produksi Psikologi dan Mental Putu Gede Asnawa Dikta Puyuh Radio Rancangan Rendang Resep dan Masakan Restoran Robot Roti Salak Sambal Sampah Sandal Sapi Sayur Mayur Sejarah dan Peradaban Sekolah Semarang Seni Seni Pahat Sepatu Sepeda Sindo News Slamet Triamanto Spa Strikingly Suprapto Surabaya Surat Kabar Tahun Baru Tas Tattoo Techno Park Teh Tekhnologi Televisi Telur Terrarium Tukang Cukur Tumang Twitter Venta Agustri Vespa Wanita dan Keindahan Wawancara Wayang Website Wetz Shinoda What's Up Wine Wordpress Yoga Yogyakarta You Tube