Thursday, July 7, 2016

Pak Taufiq Rahman Jatuh Bangun Tanpa Akhir. Kini, Ia Memiliki Omzet Rp. 2 Miliar Per Bulan

"Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia.

Sepatu dari kulit, itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika alas kaki modern tersebut dibuat dari Bambu? Faktor inilah yang perlu dijadikan pertanyaan. Pastinya keberanian dan jiwa pantang menyerah menjadi modal utama Pak Taufiq Rahman terjun dalam dunia bisnis.

Lahir di Jombang, 8 November 1964, si anak Desa mengaruhi berbagai tipikal pekerjaan sebagai tenaga pemasar selama 20 tahun. Memulai kehidupan baru di Ibu Kota, ia sempat mencicipi kesempatan kerja di perusahaan Farmasi. Kemudian mencoba untuk meraih sejumlah pengalaman sebagai pemasok barang-barang komputer, pabrik kaus kaki dan penyalur pupuk organik.

Tak jarang alur ceritanya berpacu pada peruntungan yang sama sekali berbeda dari jenis usaha sebelumnya, yaitu: juragan restoran seafood. Aneh atau tidak, mungkin dari situlah ia bisa sukses seperti sekarang. Konon isterinya, Ibu Aisyah sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Bahkan ia berujar bila karir sebagai pengusaha bukanlah jalur hidupnya. Seraya ia menyatakan komitmennya saat itu kepada Harian Kontan (24/03/2015), "Tapi, tak pernah keluar dari jalur marketing, jadi saya memang sudah menguasai bidang ini."

Kerugian yang Sempat Terbayar.

Belum pernah mendapatkan laba atau keuntungan, hingga pernah mencoba untuk menjaminkan sertifikat rumahnya ke Bank. Di mulai pada tahun 2003, semua kisah kegagalan sepertinya akan berakhir. Karena usaha pembuatan kaos kaki bermerek Parker, keberuntungan mulai menyapanya. Melalui sisa pesangon sebesar Rp. 40 juta, Pak Taufik membeli sebuah mesin jahit dan memperkejakan 1 ( satu) karyawan.

Prinsip menjaga mutu produk ternyata mampu membawa perubahan bagi ekonomi keluarganya. Usaha yang awalnya kecil dan semakin lebih baik dari hari ke hari karena pemesanan. Apalagi ia tak segan untuk mengimpor benang bambu dari daratan Cina. Lalu mencoba menerima seratnya saja sebanyak 5 ton pada keesokan tahunnya untuk kemudian dipintal sendiri di Bandung. "Mulainya 2010, awalnya kaos kaki dulu. Awalnya mau fokus kaos kaki, sepatu ke t-shirt dan sweater," ungkapnya kepada Harian Detik (24/04/2016) dan menambahkan, "Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, diangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong."

Masa-masa itu penuh dengan perjuangan. Soalnya, keunggulan dari benang bambu belum begitu populer. Untuk meyakinkan  investor, ia pun perlu menjelaskan secara panjang lebar tentang manfaat. Namun Pak Taufik tidak patah arang. Laporan riset & penelitian akhirnya dijadikan landasan bagi setiap persentasinya. "Serat bambu itu unik karena mempuanyai  daya serap keringat yang sangat bagus. Dalam penelitian, serat bambu itu 3,5 kali lebih kuat menyerap air daripada katun," jelasnya kepada Metro News (29/04/2014), selain itu, "Serat bambu ramah lingkungan karena tak menghasilkan limbah."

Hasilnya memang tak mengecewakan, tapi dia harus menunggu selama 2 tahun hingga laku dan sempat mengalami kerugian. Jawabnya, "Tak mengapa rugi, yang penting saya mendapat pengalaman dan pembelajaran dari kegagalan itu."

Keyakinan yang lebih Pantas.

Keberanian untuk menerapkan strategi baru di tahun 2012 terlihat lebih meyakinkan kiranya. Berbagai pameran fashion dan UKM di berbagai Negara diikutinya. Terbukti responnya sangat positif. Produsen dari Amerika, Italia, dan Malaysia telah tercatat sebagai pembeli aktif dalam daftar neraca keuangan bengkelnya.

Akhirnya sukses juga, namun wow! Pria yang telah memiliki tiga anak tidak berhenti hanya disitu. Sambutan hangat akan produk kreasinya, kaos kaki Parker, memicu dia untuk tidak berhenti berinovasi. Kali ini, ia menginvestasikan uangnya sebesar Rp. 100 juta untuk membuat sepatu serat bambu.

Berasal dari hambatan dalam bisnis yang membuat dia semakin lebih kreatif. Kiranya pada tahun 2010, Pak Taufik pernah berhasil menghasilkan sepatu berbahan kulit sapi setiap bulannya. Suatu saat ia mengalami kesulitas untuk mendapatkan bahan. Kemudian ia mencoba mengganti sumber yang ada dengan bahan baku yang lebih natural. Terpilihlah bahan kulit sepatu dari: ikan nilai, ular, biawak, dan katak lebuh. . . . . . Aneh-aneh aja! Lantas ia bergumam, "Justru kalau ada jenis kulit yang aneh saya tertarik. Itu yang membuat saya berpikir kreatif."

Sebagai seorang pakar, Pak Taufiq menjawab keinginan pasar akan sepatu berkualitas dan aman melalui kreasi buatan tangan langsung dari pengrajin lokal. Proses pembuatan per satu pasang membutuhkan waktu 2 hingga 5 hari. Sebanyak 25 pengrajin diikutsertakan guna memproduksi 1.000 set sepatu per bulannya. Adapun proses pembuatannya meliputi serat bambu dipintal menjadi benang, lalu dicelup, kemudian dirajut sesuai corak yang diinginkan. Barulah bagian tersebut diproses dan digabungkan dengan bagian bawah. Sentuhan dimulai dari bagian atas, lining (lapisan), insole, outsole, hingga heel (tumit).

Hasil Kerja Keras.

Menekuni passion bukan perkara mudah. Namun seiring dengan waktu, bila dijalani dengan serius, keberhasilan bisa diraih. Itulah yang dialami oleh pria asal Jombang sejak ia berusia 39 tahun.

Seiring dengan waktu, kini dia telah berhasil menambah kreasi pengolahan serat bambu menjadi berbagai jenis produk garmen: pakaian, baju dalam, celana dan tas. Berkat berbagai upaya yang dilakukan untuk mengembangkan disiplin ilmunya, ia pun pernah meraih certified ISO 9001 dan penghargaan sebagai produk UKM inovasi terbaik di tahun 2014.

Harga produknya pun beragam dan relatif memiliki nilai yang kompetitif. Melalui tenaga kerja yang saat ini berjumlah 200 orang, Kaos kaki dihargakan Rp. 70.000 hingga Rp. 100.000, T-Shirt Rp. 200.000 sampai Rp. 400.000, sweater Rp. 500.000 dan alas kaki modern atau sepatu dibanderol Rp. 400.000 s/d Rp. 1 juta per pasang.

Bangga dong? Kita pun mendengarnya senang banget. Tapi kembali ia menyusun suasana menarik dan juga surprise. Jerih payah selama hampir 2 dasawarsa mengajarkan dia untuk selalu ingat akan cerita masa perjuangan. Walau omzet perusahaannya diperkirakan telah mampu mendapatkan keuntungan sebesr Rp. 2 miliar per bulan, Pak Taufik belum melanggengkan bentuk usahanya menjadi Perseroan atau jenis badan usaha lain.

Mengapa? Dia menilai, skala bisnis UKM terasa lebih sesuai bagi kinerja usaha sejenis untuk bidang produksi maupun pengaturan organisasi. Terlebih lagi, UKM harus siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).


"Saya memproduksi dengan hati-hati," terangnya kepada Harian Marketing (19/11/2016), "Membuat tampilannya menjadi lebih menarik dan ngagam digunakan. Ini menjadi prioritas."Awalnya seringkali mengimpor benang bambu. Lalu mencoba menerima seratnya saja sebanyak 5 ton pada keesokan tahunnya.Sambutan hangat akan produk kreasinya memicu dia untuk tidak berhenti berinovasi.

"Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia."Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia."Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia.

"Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia."Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia."Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia.

"Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang aja, disangkain bohong. Karena saya nggak bisa buktiin bambu beneran apa bohong." Bahkan isterinya sendiri sempat pesimis dengan semua yang telah ia lakukan. Namun kini, setiap bulannya usaha Pak Taufik Rahman acapkali mengekspor produknya ke Amerika, Italia, dan Malaysia.



3 comments:

Waktu begitu cepat berlalu mengiring langkah dalam cerita. Terbayang selalu tatapanmu dalam lingkaran pemikiran positif ku. Para pembaca blog Warga Desa (https://warga-desa-worlds.blogspot.com) adalah teman yang terindah. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar.

Label

Agama Air Minum Alat Musik Alumunium Angklung Artis Asmara Automotif Bahan Bakar Bali Bambu Bandung Bank Bank Sampah Barang Bekas Batam Batik Becak Beras Besakih Biola Blogspot Boneka Buah-buahan Budaya dan Tradisi Buka Lapak Buku Bunga Burger Burung Cafe Charlie Tjendapati CNBC Cobek Dandung Santoso Daur Ulang Desa Desain Dodol E-mail Eceng Gondok Edie Juandie Ekonomi dan Perdagangan Es Krim Facebook Flipboard Flora dan Fauna Fruit Carving Furnitur Gadget Gamelan Garam Gerai Gerobak Gitar Google Plus Gula Hari Raya Harian Merdeka Haryadi Chou Hewan Hiburan dan Wisata Hidayah Anka Hidroponik Hijab Hotel http://www.duahari.com Hukum dan Politik Indra Karyanto Instagram Internet Internet Marketing ITB Jagung Jajanan Jamu Jamur Tiram Jangkrik Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Jepang Kain dan Pakaian Kaleng Kalimantan Kamera Kapal Laut Karaoke Kartun Kecantikan Kecap Keju Kelautan Kelinci Kemasyarakatan Kendaraan Kerajinan Kereta Kertas Kiat dan Tip Kisah Hidup Koki Komputer dan Teknologi Kopi Koran Kuda Pustaka Kuliner Kulit Kumpulan Kurir LA Time Laptop Si Unyil Lidah Buaya Linkedin Liputan 6 Logam Lukisan Kayu Madu Mahasiswa Mainan Anak-Anak Makanan dan Minuman Malang Martabak Masyarakat dan Persoalannya Matras Melukis & Menggambar Metro TV Mineral Miniatur Minyak Atsiri Mitra Mobil Motor Musik Nana Mulyana Narapidana Net TV Ngatmin Biola Bambu Obat dan Kesehatan Olah Raga Ondel-Ondel Online Organik Organisasi Sosial Pameran Panama Papers Pantang Menyerah Papan Selancar Paper Quilling Pariwisata Peluang Usaha Pemulung Pencucian Pendidikan Penelitian Penemuan Penyanyi Penyiar Peralatan Perhiasan Perikanan Permainan Perpustakaan Pertanian dan Perkebunan Perumahan Peternakan Pinterest Plastik Proses Produksi Psikologi dan Mental Putu Gede Asnawa Dikta Puyuh Radio Rancangan Rendang Resep dan Masakan Restoran Robot Roti Salak Sambal Sampah Sandal Sapi Sayur Mayur Sejarah dan Peradaban Sekolah Semarang Seni Seni Pahat Sepatu Sepeda Sindo News Slamet Triamanto Spa Strikingly Suprapto Surabaya Surat Kabar Tahun Baru Tas Tattoo Techno Park Teh Tekhnologi Televisi Telur Terrarium Tukang Cukur Tumang Twitter Venta Agustri Vespa Wanita dan Keindahan Wawancara Wayang Website Wetz Shinoda What's Up Wine Wordpress Yoga Yogyakarta You Tube