Denting Gamelan Pak Joko Darmono, Menghaluskan Warisan Nada Untuk Hati Kita |
Acapkali menghadirkan suara atau bunyi yang sangat lembut, seolah membentuk keselarasan hidup dan suasana jiwa yang selalu tenang. Ini berarti cenderung Masyarakat Jawa menghindar akan ekspresi yang tempramental, serta selalu yakin untuk mampu mewujudkan toleransi antar sesama.
Denting suara, khasanah melodi yang tak ternilai, dan apiknya tembang mengantar Pak Joko Darmono, 54, untuk selalu menembel dalam ingatan kita. Seorang anak desa dari Solo yang mengaku membuat gending tak sekedar mata pencaharian, tapi juga kinerja historis guna melestarikan budaya.
Warisan Leluhur.
Ia memiliki bengkel di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukohardjo, Jawa Timur. Konon pada masa muda, Pak Joko kerap dibimbing oleh sang ayah, Mbah Sumo Kuat tentang cara terbaik untuk membuat satu set lengkap sebuah gamelan. Jadi jangan bingung bila 'Sumber Gongso Gamelan' miliknya sejak 1960-an telah berdiri tegar.
Terhitung mulai tahun 1990, ia mulai dipercaya untuk mencukup semua kebutuhan produksi. Melalui ruang yang memang cukup luas untuk ukuran sebuah rumah, produksi gamelannya selalu ramai pengunjung. Tidak sedikit berbagai turis lokal maupun internasional kerap mampir. Berbagai aktivitas palu beradu dengan logam pun bersahutan tuk mewarnai keingintahuan.
Ada beberapa rumah di sekitar bengkel gamelan yang menyewakan kamar untuk para wisatawan yang ingin belajar dan mengamati pembuatan gamelan. Joko bercerita, dia pernah kedatangan mahasiswa dari Belanda, Jepang, Australia dan beberapa tinggal di rumah tetangga Joko, Gendengan RT 04/ RW 04.
Pembuatan Gamelan.
4 (empat) buruh memasuki tahap pengolahan. Mereka secara bergantian menempa lembaran logam yang masih berwarna merah bara. Kemudian, kembali loga tersebut dimasukkan ke dalam tungku pembakaran berbahan bakar arang dan sekam. Jika logam sudah terbentuk lagi menjadi bara, maka saatnya untuk beradu kembali dengan ujung-ujung palu para penempa, dan akan terus ditempa lagi hingga muncullah wujud gamelan yang hendak diciptakan.
Muncul bentuk gamelan dengan ukuran dan ketebalan yang pas, maka selanjutnya dilakukan proses 'Pethak' dimana gamelan ditekan dengan sebuah batang kayu yang besar untuk menciptakan kontur lekuk yang khas di permukaannya. Gamelan dirapikan lagi dengan palu yang ukurannya lebih kecil agar permukaan jadi lebih merata. Proses tersebut disebut dengna proses 'selet.' Ketika bentuk sudah mewujud, maka saatnya untuk menyelaraskan nada atau dikenal dengan tahap 'dedeg.'
Penciptaan nada yang selaras pada gamelan dimulai pada saat penggerindaan. Tebal tipisnya mempengaruhi tinggi rendah dari nada yang dihasilkan. Untuk gamelan jenis Kempul atau Kenong, diperlukan juga tekanan-tekanan atau perataan di daerah tertentu dengan menggunakan palu untuk bisa menghasilkan nada yang pas. Demi kecepatan produksi dan ketepatan nada pengrajin gamelan menggunakan alat Pitch Tuner sebagai penentu nada awal.
Pada tahap akhir dalam menentukan nada yang akan muncul dari gamelan, tetaplah kepekaan perasaan dan pendengaran yang akan dijadikan panutan bagi si empu gamelan. Ditangan terampil seorang empu gamelan, sebuah lempengan logam bisa diolah untuk menciptakan alat musik yang nantinya akan melahirkan nada-nada indah dari sebuah langgam.
Minimnya Penerus Usaha dan juga, Pangsa Pasar setelah Krisis.
Mengingat waktu yang dibutuhkan untuk membuat 1 set gamelan lengkap (25 alat) adalah 5 tahun, banyak produsen gamelan mengaku kesulitan mencari pekerja maupun regenerasi. jadi, jangan bingung bila dulu kampung Wirun memiliki 20 pengusaha, kini berbeda jauh, yakni tinggal 10 pengusaha.
Selain itu, gamelan termasuk kerajinan tangan yang awet sehingga permintaan tidak setiap hari datang. Ditambah lagi harga gamelan juga cukup tinggi. Ketika pengrajin bermodal terbatas tidak bisa menutup biaya operasional, mereka lebih baik mundur teratur dan kembali menggarap sawah.
Lain halnya dengan Pak Joko. Dia mampu bertahan karena memang ingin tetap melestarikan budaya lokal, dan tidak semata karena masalah materi. Untuk mempertahankan bisnis, ia seringkali mengikuti perkembangan aman dalam hal strategi promosi.
Ia serta rekan-rekan pengrajin gencar mempromosikan hasil kerjanya melalui internet. Malah sekarang pemesanan lebih banyak dilakukan melalui media sosial dan email. Hasilnya berbagai Negara seperti: Malaysia, Cina, Jepang, Korea, Abu Dhabi, Spanyol, Yunani, hingga Amerika Serikat, bersedia menampung barang ekspor dari Sumber Gongso.
Perunggu yang dipakai sebagai bahan mentah pembuatan gamelan merupaakn campuran dari tembaga dan timah dengan takaran 1 berbanding 3. Satu set gamelan perunggu bisa terjual dengan harga antara Rp. 250-300 juta, sedangkan gamelan super yang terbuat dari emas dihargai Rp. 400 juta hingga Rp. 500 juta. Jika pesan per instrumen, misalnya gong berdiameter 30 cm (2 - 3 buah per hari), harganya sekitar Rp. 300.000. Semakin panjang ukuran diameter, semakin mahal pula harganya. Untuk gong berdiameter 95 cm, harganya mencapai Rp. 12 juta.
Namun tetap, apa yang diterma oleh Desa Wirun saat ini dibandingkan tahun 1999. Pada masa keemasan itu, hampir seluruh pemilik bengkel gamelan mampu mengirim karyanya ke luar negeri dengan pemasukan omzet sebesar Milyaran rupiah. Kini, Pak Joko sendiri hanya memperoleh keuntungan Rp. 150 juta per bulan. Jadi untuk waktu 1 bulan, Sumber Gongso mampu menjual sebanyak 10 unit - 15 unit. Melihat gelagat tersebut, akhirnya kebijaksanaan usahanya lebih memprioritaskan pada jasa perbaikan untuk berbagai gamelan yang mengalami kerusakan.
No comments:
Post a Comment
Waktu begitu cepat berlalu mengiring langkah dalam cerita. Terbayang selalu tatapanmu dalam lingkaran pemikiran positif ku. Para pembaca blog Warga Desa (https://warga-desa-worlds.blogspot.com) adalah teman yang terindah. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar.