Wednesday, April 19, 2017

Yasa Paramita Singgih mampu SUKSES karena Bisnisnya TIDAK PAKAI MODAL

Enggak Punya Pabrik dan Enggak Pakai Modal. Caranya bagaimana ?? Bisa dipercaya, dapat untung, bahkan mampu Sukses seperti sekarang. Pak Yasa Paramita Singgih memulai semua itu saat ia masih duduk di kelas 3 SMP atau Usia 15 Tahun.

Saya terlahir Bukan dari keluarga pebisnis, keluarga yang sederhana dan berkecukupan. Ayah saya bekerja sebagai karyawan, Ibu saya juga begitu, sedangkan kakak saya juga bekerja kantoran seperti kebanyakan orang. Saya anak ke 3 dari 3 bersaudara. Semuanya istilahnya generasi karyawan lah.

Pas saya menempuh pendidikan di tingkat SMP. Kebetulan saat itu Ayah saya jatuh sakit. Beliau tiba-tiba mengalami sakit berat karena terkena serangan jantung dan seiring permasalahan tersebut, keuangan ayah saya bisa dibilang pas-pasan. Langsung terbersit dalam benak saya, ayahku memiliki tanggung jawab hidup untuk selalu harus membiaya pendidikan saya sampai kuliah dan segala macem.

Mulailah kepikir untuk mencoba mencari nafkah sendiri. Saya katakan kepada ibu saya tentang perihal yang ada. Mulai saat itu saya enggak ngambil uang jajan lagi. Jadi mulai deh, istilahnya saya faith sendiri. Coba-coba cari uang untuk bisa mandiri. Pertama kali saya mengawali karir saya sebagai anak mandiri di usia 15 tahun.

Lapangan pekerjaan pertama yang diemban yakni sebagai penentu suksesnya sebuah acara atau banyak orang kenal dengan sebutan MC (Master of Ceremonies). Waktu itu saya menjadi pembawa acara semacam D-Party, terus acara live music, dan banyak lagi di masa pendidikan bangku kelas 3 SMP. Nah dari situ rajin tuh, jadi MC, jadi MC. . . .setelah banyak mendapatkan pengalaman. Kemudian stop jadi MC, mulai deh saya terjun ke dunia usaha.

Terlahir di Bekasi, 20 April 1995, seorang bernama Yasa Paramita Singgih kini mantap bergelut pada bidang perlengkapan pria. Pemuda ini membangun bisnis dari nol hingga mampu mencapai nilai Laba penjualan sampai ratusan juta rupiah per bulan.
Yasa Paramita Singgih mampu SUKSES karena Bisnisnya TIDAK
PAKAI MODAL
Terlahir di Bekasi, 20 April 1995, seorang bernama Yasa Paramita Singgih kini mantap bergelut pada bidang perlengkapan pria. Pemuda ini membangun bisnis dari nol hingga mampu mencapai nilai Laba penjualan sampai ratusan juta rupiah per bulan.

Bisa Sukses, tapi Unik ??

Memang saya sadar bila saya tidak memiliki basic bisnis. Waktu itu juga pertama kali mulai bisnis, semuanya berasal dari keahlian berkat belajar tanpa bimbingan satu orang gurupun atau autodidak. Urainya, “Jadi gue itu enggak ikut mentoring sama siapa dulu, gue nanya-nanya ke siapa dulu. . . enggak, istilahnya gue hajar B dulu lah. Karena memang dulu gue pikirnya, cari pengalaman dulu.”

Nah terus, saya mencoba bisnis lampu hias sebagai langkah awal. Menarik juga produknya. Sebuah lampu hias kelap kelip dan bisa menimbulkan warna-warni pada setiap pancarannya. Ketika berbisnis lampu ini, saya waktu itu enggak pakai modal sama sekali. Kesempatan tersebut diberikan oleh teman saya yang bekerja sebagai supplier di Glodok. Bawa ke sekolah, tawarin barangnya langsung, setelah harganya di mark-up. Udah laku, saya bayar. Gitu aja terus, muter. . . .muter. . . .muter.

Di tengah jalan, bisnisnya harus kandas karena pemasok lampu hias makin sulit untuk ditemui. Kemudian berhenti total jualan Lampu Hias. Namun semangat saya untuk berbisnis tetap tinggi. Tak patah arang, saya pun beralih ke bisnis fashion. Bermodal uang 2 juta rupiah, saya mencoba memproduksi kaos dengan desain sendiri. Sayang! Produk saya kala itu kurang diminati oleh pasar.

Enggak jauh dari dunia fashion dan enggak perlu capek-capek, saya kepikiran mencari peruntungan dengan menjual baju yang dibeli dari pasar Tanah Abang. Pertama kali ke Tanah Abang, saya kebingungan. Disana banyak sekali toko-toko, sehingga saya tidah tahu harus berbelanja di toko yang mana. Saat itu modalnya tinggal uang tabungan sebesar Rp. 700 ribu, tetapi tidak terpakai. Tanya sana-sini, saya mendapatkan beberapa penjual di Tanah Abang yang bersedia meminjamkan kausnya. Wow. . . .ternyata laku keras.

Berkat trademark sebagai ‘Anak Tanah Abang, saya pun tidak berhenti untuk mencari tahu tentang pedagang mana yang bisa meminjamkan barang dan pedagang mana yang bisa menjual barang dalam jumlah sedikit. Saat dirumah sempat juga mengobrol dengan keluarga, saya kemudian diberitahu kalau ada saudara yang ternyata hingga saat ini masih berjualan baju di Tanah Abang. Dari situlah usaha saya semakin berkembang. Seiring dengan permintaan yang terus meningkat, saya pun berpikir untuk mengembangkan merek sendiri.

Kata Pak Yasa Paramita Singgih, Pemilik Men’s Republic, “Kebanyakan orang jualnya palu gada. Apa yang elo mau, Gua ada. Elo mau cari baju, gue ada, gue cariin dulu deh.”
Yasa Paramita Singgih mampu SUKSES karena Bisnisnya TIDAK
PAKAI MODAL
 Kata Pak Yasa Paramita Singgih, Pemilik Men’s Republic, “Kebanyakan orang jualnya palu gada. Apa yang elo mau, Gua ada. Elo mau cari baju, gue ada, gue cariin dulu deh.”
 
Konsumen Lokal dan Itu adalah Keuntungan.

Orang kita itu kebanyakan lebih suka mengenakan barang-barang bermerek. Meskipun itu palsu. Mereka tampaknya lebih mencari gengsi. Kesimpulan lain, banyak produk lebih mengutamakan pangsa pasarnya untuk kalangan wanita. Sekalipun ada, harganya mahal. Udah gitu tidak cocok buat kantong mahasiswa. Konsepnya pun tidak manly.

Nah dari situ mulai kepikiran tentang dasarnya jualan baju cowok. Akhirnya nama Men’s Republic di daulat sebagai logo utama. Lantas, bagaimana caranya supaya bisa eksis? Ya sebuah brand harus punya identitas. Identitas Men’s Republic, barangnya khusus cowok. Manly, semuanya berwarna gelap. Ibaratnya kalau orang tuh misalnya lihat brand terkenal dengan kaus polos bersama 1 (satu) logo brand aja, pandangan mereka bisa jauh beda.

Men’s Republic mengkonsentrasikan porsi pasarnya bagi konsumen usia 17 tahun hingga 25 tahun, atau mahasiswa dan orang yang baru kerja. Ini dipasarkan mulai Rp. 100 ribu. Sebagian besar produknya dijajakan melalui media online, seperti Facebook, Instagram, Line dan Twitter. Ternyata produk saya dinyatakan memiliki konsep yang bagus. Sampai akhirnya kami masuk jalur bisnis e-commerce.

Untuk bidang reproduksi, Men’s Republic bekerjasama dengan 6 (enam) pabrik yang ada di Bandung dan Tangerang. Jadi full-nya saya dan tim di kantor hanya ngurusin kinerja manajeman dan pemasarannya saja. Kita besarkan brand-nya, tapi untuk produksinya saya lempar ke pabrik-pabrik. Kita kerjasama. Seringkali juga produk saya bisa masuk ke arena Bazar secara gratis. Karena mereka menganggap bila brand saya mampu menarik anak-anak muda untuk datang ke Bazar.

Tahun 2014 pada saat usia saya masih 19 tahun, Men’s Republic mulai berkembang dengan pesat, ragam kreasi produknya pun semakin kaya. Sudah berani meluncurkan kreasi baju, jaket, dan sepatu yang menarik. Karena menyasar pada kelas menengah, harga sepatu yang ditawarkan paling mahal sekitar Rp. 400 ribu-500 ribu rupiah. Saat ini sudah ada 120 reseller Men’s Republic yang tersebar di seluruh Indonesia. Perputaran uangnya mencapai Rp. 200 – 300 juta per bulan.
 
Ia memulai usaha ketika masih berusia 15 tahun dan kini, dia aktif berbagi pengalaman menjadi motivator di sejumlah universitas. Buah pengalaman dan pemikirannya bahkan diabadikan dalam karya buku. Beliau berharap pengalaman yang ia miliki dapat menjadi insiprasi bagi para pemuda lainnya.
Yasa Paramita Singgih mampu SUKSES karena Bisnisnya TIDAK
PAKAI MODAL
Ia memulai usaha ketika masih berusia 15 tahun dan kini, dia aktif berbagi pengalaman menjadi motivator di sejumlah universitas. Buah pengalaman dan pemikirannya bahkan diabadikan dalam karya buku. Beliau berharap pengalaman yang ia miliki dapat menjadi insiprasi bagi para pemuda lainnya.

Majalah Forbes Asia.

Di tahun 2015 saya menulis sebuah buku berjudul “Never Too Young To Become a Billionaire." Hal yang mendorong diri saya untuk suka menulis karena saya sering curhat lewat Twitter di tahun 2011. Istilahnya kultwit. Saya sering ngetwitt tentang pengalaman saya berjualan. Pengalaman saya saat berinteraksi dengan pembeli.

Karena kebiasaan itu saya akhirnya jadi suka berbagi tips-tips berbisnis. Tentu semakin banyak follower pada akun saya dan teman berbicara secara online, belum lagi media cetak yang cukup banyak meliput. Dari situlah saya ditawarkan untuk menerbitkan sebuah buku tentang perjalanan saya sebagai pengusaha, dari awal sampai dengan sekarang.

Berikut beberapa Twitternya yang mampu memotivasi banyak orang dan menyemangati para pengusaha agar selalu memiliki kinerja yang baik (@YasaSinggih): 1. Adrenalin berbisnis lebih kencang daripada jatuh cinta 2. Selalu merasa bodoh terhadap ilmu, ga pernah berhenti belajar 3. Walaupun sekarang kita belum kaya, tapi kita harus mulai praktekkin "habbit" nya orang2 kaya. 4. Coba deh, ambil satu keputusan untuk ngelakuin habbit nya orang kaya. Mungkin keputusan kecil, tp bisa berdampak besar 5. Rutin beli majalah/tabloid bisnis, walaupun ga suka baca.. Paksain aja! Baca kisah2 jatuh bangun pebisnis. 6. Terjun di organisasi & bisnis, memaksa saya untuk memiliki pola pikir diatas rata2 usia saya sendiri. 7. Di usia 17thn byk remaja dpt undangan sweet17an. Tp saya udah dpt undangan kawinan, gegara maen sama yg lebih gede terus. 8. Orang2 bilang saya kecepetan tua, tapi saya bilang ini percepatan menuju keberhasilan. 9. Dulu pas umur 15 tahun demi nyari duit rela2in ngeMC di Mall, ngaku2 umur 18 tahun biar keterima. 10. Menjelang malem, mau ngebakar temen2 dulu ah.. Kita cerita2 tentang awal mula bisa usaha ya.

Raihan kesuksesan pun tak tanggung-tanggung. Nama saya dan wajah saya yang suka mengenakan kaca mata terpampang begitu jelas pada sampul Majalah Forbes Asia, tahun 2016. Sebagai deretan anak-anak muda paling berpengaruh dalam industri e-commerce di usia 30 Under 30. Disitu saya bersama-sama orang Indonesia lainnya, Mbak Carline Darjanto. Wanita berusia 29 tahun ini juga salah satu pendiri label fashion terkenal di Indonesia dengan merek Cotton Ink. Selain itu, pria berusia 30 tahun asal Malaysia Faeez Fadhillah pendiri dan CEO dari Traipfrez.


Pesan dari Pak Yasa Paramita Singgih untuk anak muda Indonesia supaya nggak menyerah dalam berwirausaha
Pengusaha itu tidak harus pinter. Tapi yang penting, ia pinter mencari orang pinter. Yang penting kita tahu caranya menjual ini bagaimana. Dan bisnis itu enggak harus dimulai pas umur 30 atau 40, 50 tahun.  Bisa pas lagi muda, kita baru mulai bisnis bisa. Jadi, tua itu pasti dan dewasa itu pilihan. Tapi jadi pengusaha itu keputusan.
Jadi usia jelas bukan penghalang untuk mulai berbisnis. Jangan lupa untuk merencanakan usaha anda dengan cermat. Semoga sukses.

Website:  http://mensrepublic.info/


Enggak Punya Pabrik dan Enggak Pakai Modal. Caranya bagaimana ?? Bisa dipercaya, dapat untung, bahkan mampu Sukses seperti sekarang. Pak Yasa Paramita Singgih memulai semua itu saat ia masih duduk di kelas 3 SMP atau Usia 15 Tahun.Enggak Punya Pabrik dan Enggak Pakai Modal. Caranya bagaimana ?? Bisa dipercaya, dapat untung, bahkan mampu Sukses seperti sekarang. Pak Yasa Paramita Singgih memulai semua itu saat ia masih duduk di kelas 3 SMP atau Usia 15 Tahun.Enggak Punya Pabrik dan Enggak Pakai Modal. Caranya bagaimana ?? Bisa dipercaya, dapat untung, bahkan mampu Sukses seperti sekarang. Pak Yasa Paramita Singgih memulai semua itu saat ia masih duduk di kelas 3 SMP atau Usia 15 Tahun.
















Sumber Penulisan:



No comments:

Post a Comment

Waktu begitu cepat berlalu mengiring langkah dalam cerita. Terbayang selalu tatapanmu dalam lingkaran pemikiran positif ku. Para pembaca blog Warga Desa (https://warga-desa-worlds.blogspot.com) adalah teman yang terindah. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar.

Label

Agama Air Minum Alat Musik Alumunium Angklung Artis Asmara Automotif Bahan Bakar Bali Bambu Bandung Bank Bank Sampah Barang Bekas Batam Batik Becak Beras Besakih Biola Blogspot Boneka Buah-buahan Budaya dan Tradisi Buka Lapak Buku Bunga Burger Burung Cafe Charlie Tjendapati CNBC Cobek Dandung Santoso Daur Ulang Desa Desain Dodol E-mail Eceng Gondok Edie Juandie Ekonomi dan Perdagangan Es Krim Facebook Flipboard Flora dan Fauna Fruit Carving Furnitur Gadget Gamelan Garam Gerai Gerobak Gitar Google Plus Gula Hari Raya Harian Merdeka Haryadi Chou Hewan Hiburan dan Wisata Hidayah Anka Hidroponik Hijab Hotel http://www.duahari.com Hukum dan Politik Indra Karyanto Instagram Internet Internet Marketing ITB Jagung Jajanan Jamu Jamur Tiram Jangkrik Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Jepang Kain dan Pakaian Kaleng Kalimantan Kamera Kapal Laut Karaoke Kartun Kecantikan Kecap Keju Kelautan Kelinci Kemasyarakatan Kendaraan Kerajinan Kereta Kertas Kiat dan Tip Kisah Hidup Koki Komputer dan Teknologi Kopi Koran Kuda Pustaka Kuliner Kumpulan Kurir LA Time Laptop Si Unyil Lidah Buaya Linkedin Liputan 6 Logam Lukisan Kayu Madu Mahasiswa Mainan Anak-Anak Makanan dan Minuman Malang Martabak Masyarakat dan Persoalannya Matras Melukis & Menggambar Metro TV Mineral Miniatur Minyak Atsiri Mitra Mobil Motor Musik Nana Mulyana Narapidana Net TV Ngatmin Biola Bambu Obat dan Kesehatan Olah Raga Ondel-Ondel Online Organik Organisasi Sosial Pameran Panama Papers Pantang Menyerah Papan Selancar Paper Quilling Pariwisata Peluang Usaha Pemulung Pencucian Pendidikan Penelitian Penemuan Penyanyi Penyiar Peralatan Perhiasan Perikanan Permainan Perpustakaan Pertanian dan Perkebunan Perumahan Peternakan Pinterest Plastik Proses Produksi Psikologi dan Mental Putu Gede Asnawa Dikta Puyuh Radio Rancangan Rendang Resep dan Masakan Restoran Robot Roti Salak Sambal Sampah Sandal Sapi Sayur Mayur Sejarah dan Peradaban Sekolah Semarang Seni Seni Pahat Sepatu Sepeda Sindo News Slamet Triamanto Spa Strikingly Suprapto Surabaya Surat Kabar Tahun Baru Tas Tattoo Techno Park Teh Tekhnologi Televisi Telur Terrarium Tukang Cukur Tumang Twitter Venta Agustri Vespa Wanita dan Keindahan Wawancara Wayang Website Wetz Shinoda What's Up Wine Wordpress Yoga Yogyakarta You Tube