Thursday, September 22, 2016

Di tangan Pak Agung Nugroho, 23! Kaleng Bekas Bisa Datangkan Rp. 350 ribu sehari

Pria asal Kabupaten Pati ini tidak ada background seni sama sekali untuk membangun usahanya. Apalagi terhitung bila proses pembuatan dan pendesainan miniatur tidaklah mudah. Jadi dia hanya berbekal pengalaman pada masa perantauan di Tangerang. Lalu Agung Nugroho, 23, mencoba mengisi waktu yang ada dengan mengotak-atik kaleng minuman bekas sampai dengan botol plastik.   Berbaur bersama sejumlah peralatan sederhana, seperti tang, lem, cutter, dan gunting. Tampak ia rajin mengutak atik dan serius menjalani berbagai percobaan. Hingga hasilnya, ia mendapatkan pesanan dari  teman, serta pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan beberapa tempat di Pulau Sumatera.
Kita patut hadir untuk orang-orang kreatif di Indonesia. Agar supaya karya-karya mereka lebih baik dan berperan efektif guna pengembangan sektor ekonomi di masyarakat. Maksud ini juga memiliki tujuan untuk menghindarkan generasi dari kegiatan dan pengaruh yang sifatnya negatif.

Proses kreatif yang ada bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Terutama dalam hal ini, pengelolaan akan sampah dapat dijadikan pembuktiannya. Salah satu diantaranya adalah Pak Agung Nugroho, 23. Secara mandiri, pria dari Kabupaten Pati ini mampu merubah wadah minuman bekas menjadi miniatur helikopter, pesawat, motor vespa, dan becak, serta kapal laut.

Bisa dibilang ia hampir tak memiliki modal atau persiapan apapun saat memutuskan terjun ke usaha jual-beli miniatur. Jujur dan selalu berpikir positif, hingga rajin mencari referensi tentang teknik pembuatan miniatur di Google. Tambahan potensi sumber daya yang dipergunakan juga memberikan wacana pemasukan baru bagi para pemulung. Pastinya! Tak ada satupun yang tercipta dengan sia-sia.

Warga Desa yang Selalu Positif.

Memang proses pembuatan dan pendesainan miniatur tidaklah mudah, tapi tidak ada satupun yang tercipta dengan sia-sia. Mungkin, prinsip inilah yang dipegang oleh Pak Agung Nugroho. Hebatnya lagi, dia tidak ada background seni sama sekali untuk membangun usahanya.

Semenjak pulang dari perantauan di Tangerang, pria kelahiran 24 Maret 1993 tidak memiliki pekerjaan, alias menganggur. Adapun kepulangannya disebabkan oleh penyakit typus yang dideritanya. Berbekal keahlian sebagai operator mesin, ia mencoba mengisi waktu yang ada dengan mengotak-atik kaleng minuman bekas sampai dengan botol plastik.

Berbaur bersama sejumlah peralatan sederhana, seperti tang, lem, cutter, dan gunting. Kaleng bekas tampak menemani aktivitasnya dan hari demi hari, ia jalani secara serius berbagai rangkaian percobaan yang diperlukan. Jelasnya kepada Harian Tribun News (03/07/2015), “Saya lihat banyak kaleng sampah yang tercecer dimana-mana. Saya prihatin saja. Kemudian saya mencari berbagai referensi dari internet untuk memanfaatkan kembali kaleng bekas.”

Gagal terus awalnya. Kulit tangan Pak Agung pun sempat terluka karena tajamnya kaleng yang sudah digunting. Lalu ia menerapkan metode baru, yakni tiap pertimbangan kinerja harus menggunakan skala desain berbahan kertas karton sebagai ukuran bantuan. Seorang diri ia melatih kerajinan tangan yang sesederhana itu dan berulang-ulang ia coba hingga mencapai kinerja ideal yang diinginkan. Pokoknya! Ketelitian, kesabaran, ekstra hati-hati, dan ketekunan harus diterapkan pada tiap proses kerja. Setelah selesai, proses cat dengan menggunakan vernis dilakukan agar bisa terlihat mengkilat.

Tidak terlupa, sulung 2 bersaudara acapkali menggunakan kacamata dan sarung tangan ketika dilakukan proses perekatan menggunakan lem. Katanya terasa panas banget jika terkena mata, belum lagi lem akan sulit hilang bila sudah menempel. “Bodi vespa yang gemuk dan nyentrik lebih mudah untuk dibuat replika. Tetapi, saya butuh waktu lumayan lama untuk bisa membuat bentuk replika vespa menjadi suvenir yang benar-benar mirip aslinya,” kata lulusan SMKN 2 Pati.

Tidak Menggunakan Instagram dan Facebook untuk bidang Pemasaran.

Sejauh ini, dirinya mengaku tidak pernah mengalami masalah untuk memperoleh bahan baku. Modal yang ada biasanya didapat dari pengepul dengan biaya sebesar Rp. 15 ribu/kg. Guna membuat satu miniatur, jumlah kaleng yang dibutuhkan bervariasi tergantung ukurannya. Setidaknya butuh 7 atau 8 kaleng dengan masa waktu kerja 1 jam untuk terciptanya sebuah Vespa. Tiap bagian dari kaleng pun benar-benar terpakai. Kaleng-kaleng hasil pemotongan dibentuk sedemikian rupa hingga mendekati bentuk detail dari sebuah vespa. Mulai dari stang, body, jok, hingga ban. Semua menggunakan satu bahan yaitu kaleng bekas.

Hasil rakitan dalam sehari biasanya berjumlah 3 hingga 4 buah dengan harga jual seharga Rp. 35 ribu untuk vespa, Rp. 20.000 untuk becak dan helikopter, serta Rp. 200 ribu untuk kapal bambu. Bicara tentang pendapatan, ada kala ramai ada kalanya sepi. Tambahnya, “Tak tentu. Kadang Rp 60 ribu, kadang Rp 100 ribu. Kalau ramai, bisa Rp 350 ribu per hari.”

Sementara untuk menjual kreasinya, Pak Agung Nugroho tidak mengggunakan akun Instagram maupun Facebook. Ia hanya menggunakan galeri kecil di rumahnya, tepatnya di Desa Sekar Kurung RT 01 RW 03, Kecamatan Margorejo, Pati, Jawa Timur. Lokasinya berada di pinggir jalan sehingga membuat banyak pengendara sering memalingkan pandangan ke arah miniatur-miniatur produksinya yang dipajang. Selain disana, seringkali ia mendapatkan pesanan dari  teman, serta pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan beberapa tempat di Pulau Sumatera.

Kendalanya ya pengiriman itu, karena memang barangnya kan rentan rusak jika memegang atau menaruhnya secara sembarangan. Apalagi sampai dilempar-lempar. Jadi, ketika ada pesanan dari luar daerah, jarang saya menyanggupinya, karena proses pengirimannya yang masih kesulitan. Tapi mereka datang sendiri, itu beda lagi ceritanya,” Seraya ia menjelaskan masalah yang dihadapi dalam perjalanan bisnisnya.

Variasi lain buatan Pak Agung pun semakin beragam. Tak hanya miniatur dari kaleng bekas. Kini ia juga menawarkan miniatur berbahan dasar Pelepah Pisang. Bagaimana tuh prosesnya? Paparnya, “Awal mulanya, Saya itu kan mencari pelepah pisang yang memang harus sudah kering dan langsung dari pohonnya. Selanjutnya, pelepah pisang tersebut disetrika supaya bisa lurus. Selanjutnya, pelepah pisang diberikan sebuah pola. Lalu, ditempeli dengan kardus supaya tebal, lalu akan dirangkai dengan memakai lem jadi sebuah miniatur sesuai dengan keinginan Saya.”



Pria asal Kabupaten Pati ini tidak ada background seni sama sekali untuk membangun usahanya. Apalagi terhitung bila proses pembuatan dan pendesainan miniatur tidaklah mudah. Jadi dia hanya berbekal pengalaman pada masa perantauan di Tangerang. Lalu Agung Nugroho, 23, mencoba mengisi waktu yang ada dengan mengotak-atik kaleng minuman bekas sampai dengan botol plastik.   Berbaur bersama sejumlah peralatan sederhana, seperti tang, lem, cutter, dan gunting. Tampak ia rajin mengutak atik dan serius menjalani berbagai percobaan. Hingga hasilnya, ia mendapatkan pesanan dari  teman, serta pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan beberapa tempat di Pulau Sumatera. Pria asal Kabupaten Pati ini tidak ada background seni sama sekali untuk membangun usahanya. Apalagi terhitung bila proses pembuatan dan pendesainan miniatur tidaklah mudah. Jadi dia hanya berbekal pengalaman pada masa perantauan di Tangerang. Lalu Agung Nugroho, 23, mencoba mengisi waktu yang ada dengan mengotak-atik kaleng minuman bekas sampai dengan botol plastik.   Berbaur bersama sejumlah peralatan sederhana, seperti tang, lem, cutter, dan gunting. Tampak ia rajin mengutak atik dan serius menjalani berbagai percobaan. Hingga hasilnya, ia mendapatkan pesanan dari  teman, serta pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan beberapa tempat di Pulau Sumatera. Pria asal Kabupaten Pati ini tidak ada background seni sama sekali untuk membangun usahanya. Apalagi terhitung bila proses pembuatan dan pendesainan miniatur tidaklah mudah. Jadi dia hanya berbekal pengalaman pada masa perantauan di Tangerang. Lalu Agung Nugroho, 23, mencoba mengisi waktu yang ada dengan mengotak-atik kaleng minuman bekas sampai dengan botol plastik.   Berbaur bersama sejumlah peralatan sederhana, seperti tang, lem, cutter, dan gunting. Tampak ia rajin mengutak atik dan serius menjalani berbagai percobaan. Hingga hasilnya, ia mendapatkan pesanan dari  teman, serta pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan beberapa tempat di Pulau Sumatera.


1 comment:

Waktu begitu cepat berlalu mengiring langkah dalam cerita. Terbayang selalu tatapanmu dalam lingkaran pemikiran positif ku. Para pembaca blog Warga Desa (https://warga-desa-worlds.blogspot.com) adalah teman yang terindah. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar.

Label

Agama Air Minum Alat Musik Alumunium Angklung Artis Asmara Automotif Bahan Bakar Bali Bambu Bandung Bank Bank Sampah Barang Bekas Batam Batik Becak Beras Besakih Biola Blogspot Boneka Buah-buahan Budaya dan Tradisi Buka Lapak Buku Bunga Burger Burung Cafe Charlie Tjendapati CNBC Cobek Dandung Santoso Daur Ulang Desa Desain Dodol E-mail Eceng Gondok Edie Juandie Ekonomi dan Perdagangan Es Krim Facebook Flipboard Flora dan Fauna Fruit Carving Furnitur Gadget Gamelan Garam Gerai Gerobak Gitar Google Plus Gula Hari Raya Harian Merdeka Haryadi Chou Hewan Hiburan dan Wisata Hidayah Anka Hidroponik Hijab Hotel http://www.duahari.com Hukum dan Politik Indra Karyanto Instagram Internet Internet Marketing ITB Jagung Jajanan Jamu Jamur Tiram Jangkrik Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Jepang Kain dan Pakaian Kaleng Kalimantan Kamera Kapal Laut Karaoke Kartun Kecantikan Kecap Keju Kelautan Kelinci Kemasyarakatan Kendaraan Kerajinan Kereta Kertas Kiat dan Tip Kisah Hidup Koki Komputer dan Teknologi Kopi Koran Kuda Pustaka Kuliner Kulit Kumpulan Kurir LA Time Laptop Si Unyil Lidah Buaya Linkedin Liputan 6 Logam Lukisan Kayu Madu Mahasiswa Mainan Anak-Anak Makanan dan Minuman Malang Martabak Masyarakat dan Persoalannya Matras Melukis & Menggambar Metro TV Mineral Miniatur Minyak Atsiri Mitra Mobil Motor Musik Nana Mulyana Narapidana Net TV Ngatmin Biola Bambu Obat dan Kesehatan Olah Raga Ondel-Ondel Online Organik Organisasi Sosial Pameran Panama Papers Pantang Menyerah Papan Selancar Paper Quilling Pariwisata Peluang Usaha Pemulung Pencucian Pendidikan Penelitian Penemuan Penyanyi Penyiar Peralatan Perhiasan Perikanan Permainan Perpustakaan Pertanian dan Perkebunan Perumahan Peternakan Pinterest Plastik Proses Produksi Psikologi dan Mental Putu Gede Asnawa Dikta Puyuh Radio Rancangan Rendang Resep dan Masakan Restoran Robot Roti Salak Sambal Sampah Sandal Sapi Sayur Mayur Sejarah dan Peradaban Sekolah Semarang Seni Seni Pahat Sepatu Sepeda Sindo News Slamet Triamanto Spa Strikingly Suprapto Surabaya Surat Kabar Tahun Baru Tas Tattoo Techno Park Teh Tekhnologi Televisi Telur Terrarium Tukang Cukur Tumang Twitter Venta Agustri Vespa Wanita dan Keindahan Wawancara Wayang Website Wetz Shinoda What's Up Wine Wordpress Yoga Yogyakarta You Tube