Friday, September 30, 2016

Terima Kasih Pemerintah Republik Indonesia atas Karya Kreatif dari Narapidana di Napi Craft

Kebanyakan hasil kerajinan tangan yang habis laku dijual adalah Sepatu kulit hasil buatan tangan warga binaannya, serta batik tulis dan kerajinan dompet yang terbuat dari kulit.
Terima Kasih Pemerintah Republik Indonesia atas Karya Kreatif dari Narapidana
di Napi Craft
Wajah-wajah ceria menghiasi ruang tunggu di Lapas Rajabasa, Bandar Lampung. Tawa riang sang bocah ikut mewarnai pertemuan singkat keluarga dan kerabat. Ucapnya sederhana bersama keyakinan kuat, 'Orang tua ku telah menjadi sosok yang positif bagi masyarakat.'

Terwujudnya kreativitas dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, bahkan di dalam penjara sekalipun. Apalagi setelah kita memperhatikan lebih seksama kepada hasil kinerja Pemerintah RI untuk permasalahan yang satu ini. Amir Mahmud, salah satu narapidana yang divonis selama 14 tahun karena kasus asusila terlihat sibuk memintal benang emas. Sedangkan yang lain; sibuk mengasah batu akik, mendesain potongan kayu, dan di ruangan yang berbeda, ada napi yang begitu ceria saat mengerjakan kerajinan kain tapis.

Wednesday, September 28, 2016

Batu Cobek buatan Ibu Riyati, 52, Untungnya Rp. 4 juta per Bulan

Walau dianggap sepele, cobek selalu menjadi institusi penting bagi dapur keluarga. Keberadaannya dibutuhkan guna menghaluskan bumbu kala ibunda menyajikan masakan, termasuk aneka sambal dengan berbagai pilihan seduhan resep. Ibu Riyati, 52, namanya. Dia tidak sendiri membuat cobek di daerahnya. Ada 60-an kepala keluarga yang terdapat di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang dan biasa memasarkan hasil kerjanya hingga luar pulau Jawa. Puluhan pengrajin di desa tersebut, hidup dari membuat cobek yang bahannya diambil dari batu di lereng Gunung Arjuno.
Batu Cobek buatan Ibu Riyati, 52, Untungnya Rp. 4 juta per Bulan
Batu hitam dan berat ini sudah menjadi teman memasak paling favorit bagi para keluarga di Indonesia sejak dahulu kala. Bukan ku menceritakannya tanpa alasan. Alat tradisional yang memiliki manfaat untuk menghaluskan bumbu dan bahan-bahan lainnya.

Cobek namanya. Perangkat masak yang terbuat dari batu dan tahan terhadap pengaruh suhu, air, bahkan benturan sekalipun. Jika lumpang atau cobek yang anda inginkan adalah berasal dari Batu Gunung Arjuno, maka tidak salah untuk ditelaah lebih lanjut. Produksi cobek yang dilakukan telah dijalankan secara turun temurun oleh para pengrajin yang berada di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Saturday, September 24, 2016

Indahnya hasil Revitalisasi Desa di Pulau Dewata dan Pak Putu Gede Asnawa Dikta adalah tokohnya

Inspirasi bagi warga desa bisa datang dari mana saja, tak terkecuali dari fenomena yang dimiliki sejak 1920-an dan Pak Putu Gede Asnawa Dikta adalah seorang mahasiswa yang berusaha merevitalisasi keunggulan tersebut. Hanya dalam kurun waktu selama 4 tahun saja, ia telah berhasil merealisasikan programnya pada sektor primer (pertanian) dan sektor tersier (pariwisata).   Saat ini, Masyarakat di Desa Sibetan, Kabupaten Karangasem, Bali, berani memPROKLAMIRkan daerahnya sebagai wilayah AGROWISATA BARU di Pulau Dewata. Bahkan mereka juga telah mampu mengolah buah salak menjadi beragam kebutuhan panganan, mulai dari manisan, dodol, keripik, sirup, caramel, hingga produk kopi. Serta dari sekian jenis olahan, salak pun bisa menghasilkan minuman khas dari Budaya Italia dan sejak tahun 2013, mereka sudah mengekpor produk tersebut ke Eropa.   UNIK-nya lagi! Anda dan para wisatawan yang datang, TIDAK akan pernah menemukan HOTEL disana. Jadi, setiap masyarakat desa siap memberikan fasilitas home stay (rumah singgah) dan paket field trip (jalan-jalan berkeliling desa), serta menghadirkan khasanah budaya Pulau Dewata pada setiap perjumpaan. . . . . . . Wow, Menarik sekali tampaknya.
Indahnya hasil Revitalisasi Desa di Pulau Dewata dan Pak Putu Gede Asnawa
Dikta adalah tokohnya
Pengembangan sektor pertanian yang digabung dengan unsur wisata merupakan sebuah terobosan yang memiliki manfaat ganda. Aktivitas ini berbeda dari lainnya. Ketika wilayah terus digali, pastinya semua itu tidak akan pernah habis, tak pernah sepi, terutama saat fungsi dan manfaat mampu berinteraksi.

Di sisi lain, memperhatikan para pengunjung ceria, senang, dan sangat jarang yang datang sendirian, memberi rasa yang tak ternilai. Harapan tanpa harus merogoh kocek besar, mereka bisa menikmati keindahan alam yang luar biasa ini. Belum lagi, animo yang cukup tinggi datang dari masyarakat perkotaan, mereka kerap menyukai rutinitas ringan guna melepas kepenatan.

Thursday, September 22, 2016

Di tangan Pak Agung Nugroho, 23! Kaleng Bekas Bisa Datangkan Rp. 350 ribu sehari

Pria asal Kabupaten Pati ini tidak ada background seni sama sekali untuk membangun usahanya. Apalagi terhitung bila proses pembuatan dan pendesainan miniatur tidaklah mudah. Jadi dia hanya berbekal pengalaman pada masa perantauan di Tangerang. Lalu Agung Nugroho, 23, mencoba mengisi waktu yang ada dengan mengotak-atik kaleng minuman bekas sampai dengan botol plastik.   Berbaur bersama sejumlah peralatan sederhana, seperti tang, lem, cutter, dan gunting. Tampak ia rajin mengutak atik dan serius menjalani berbagai percobaan. Hingga hasilnya, ia mendapatkan pesanan dari  teman, serta pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan beberapa tempat di Pulau Sumatera.
Kita patut hadir untuk orang-orang kreatif di Indonesia. Agar supaya karya-karya mereka lebih baik dan berperan efektif guna pengembangan sektor ekonomi di masyarakat. Maksud ini juga memiliki tujuan untuk menghindarkan generasi dari kegiatan dan pengaruh yang sifatnya negatif.

Proses kreatif yang ada bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Terutama dalam hal ini, pengelolaan akan sampah dapat dijadikan pembuktiannya. Salah satu diantaranya adalah Pak Agung Nugroho, 23. Secara mandiri, pria dari Kabupaten Pati ini mampu merubah wadah minuman bekas menjadi miniatur helikopter, pesawat, motor vespa, dan becak, serta kapal laut.

Tuesday, September 20, 2016

Pak Abdul Sobur - Bermula dari Jualan Radio Klasik, kini karyanya laku terjual di Luar Negeri

Hadirkanlah keindahan Radio Klasik ke rumah anda bersama Produk dari Gloya Indonesia. Didukung oleh teknologi sistem audio terbaru bersama ornamen terukir dan karya tulisan tangan yang tidak perlu diragukan lagi, radio ini membawa gelombang tranguility yang menggemakan bagi setiap sudut ruang rumah anda.   Awalnya Pak Abdul Sobur hanya fokus membuat jenis kerajinan untuk kotak kayu. Lambat laun kreasinya kerap diburu oleh berbagai konsumen dari luar maupun dalam negeri. Hingga suatu saat, respon pasar semakin memperlihatkan ketajamannya sejak ia bekerjasama dengan pelopor dari Pabrik Radio Transistor pertama di Indonesia.
Pak Abdul Sobur - Bermula dari Jualan Radio Klasik, kini karyanya laku terjual
di Luar Negeri
Menghadirkan ruang gerak yang sangat bebas bagi para penggemarnya. Termasuk untuk berbagai kalangan, eksistensi tersebut mesti dilestarikan ketika ketatnya kompetisi antar media kian hiruk pikuk. Kalau televisi, kita seharusnya duduk manis dan mengerahkan semua perhatian.

Coba saja bandingkan dengan radio. Sobat muda bisa mendengarkannya tanpa merasa terganggu sambil bekerja di laptop, tertawa cerita bersama sobat, berbincang-bincang dengan kawan atau konsentrasi saat mengendarai kendaraan. Lebih lagi, si pengisi suara rasio atau penyiar tidak bisa ditampik wajib menghadirkan solusi suara yang diinginkan oleh pemirsa.

Monday, September 19, 2016

Berkat Modal Rp. 100 Ribu, Labushky Bouquet telah merambah Jual-Beli Bunga ke seluruh Indonesia

Modal sekitar Rp. 100.000 itu juga beli beberapa batang kayu mawar dan bunga gerbera, bunga mentah dari petani kan harga murah. Dirangkai, jadi harga yang selesai dirangkai kenapa mahal itu tuh karena kreatif dan seni," ungkap Mbak Yosefine Nugrahening Lamiastuti kepada Harian Detik (10/08/2016) tentang perihal awal perjuangan bisnisnya.
Berkat Modal Rp. 100 Ribu, Labushky Bouquet telah merambah Jual-Beli Bunga
ke seluruh Indonesia
Minat masyarakat modern akan bunga memang cenderung tidak pernah berhenti. Hal terbaik tentang dekorasi dari alam yang efektif dan efisien bagi luas ruang seadanya. Selain itu, kharakteristik kreasi selalu terlihat indah dan asri saat memberikan begitu banyak pilihan.

Diceritakan oleh Mbak Yosefine Nugrahening Lamiastuti. Sejak Agustus 2015, ia bersama keahlian alamiahnya mulai membuat rangkaian bunga hias yang beralaskan kotak beragam bentuk. Terhitung tiap 1 bulan, ia mampu menjual 100 - 300 bucket dengan omzet mencapai Rp. 20 s/d 30 juta.

Saturday, September 17, 2016

Tak Pernah meraih Gelar Insinyur, tapi karya Miniatur dari Pak Frans Sukarya dikenal oleh Dunia

Tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai Insinyur. Apalagi keterkaitannya dengan disiplim ilmu mengenai bangun membangun, bahkan perihal pengetahuan pada bidang desain dan arsitektur. Pak Frans Sukarya hanyalah seorang rakyat jelata yang berusaha menyalurkan hobinya sejak kecil.   Kerabat seprofesi dari Negara Cina, Jerman, dan Perancis sempat terpukau saat mereka berkunjung ke Taman Miniatur Kereta Api miliknya di Bandung. Bahkan tak segan mereka menyamaratan kualitas produknya dengan kapasitas mutu yang dihadirkan oleh Taman Miniatur di Look Model Railway, Jerman; Northlandz Model Railway, Belanda; Gainsborough model Railway, Inggris; Taman Miniatur Wunderland, Hamburg, Jerman; dan Toogenburg Model Railway, Swiss.
Tak Pernah meraih Gelar Insinyur, tapi karya Miniatur dari Pak Frans Sukarya
dikenal oleh Dunia
Saya kira ia awalnya tumbuh dari seorang yang pandai berimajinasi. Frans, panggilan akrab Pak Frans Sukarya, sosok yang cukup terkenal di Kota Pahlawan berkat keahliannya dalam membuat Miniatur Kereta Api. Hasil kreasinya terbukti telah banyak mengundang decak kagum.

Dirinya sewaktu keil memang seorang figur yang telaten, suka memanfaatkan waktu untuk rajin belajar, serta gemar sekali memperhatikan lokomotif-lokomotif yang terpajang di museum. Kemudian mencoba mewujudkan pengamatannya untuk membuat miniatur lokomotif pada tahun 1996.

Thursday, September 15, 2016

Nggodhog Wedang Teh bersama 50 jenis Racikan dari Kedai Teh Laresolo, Mengapa Tidak ????

Sangat sulit kiranya menyediakan 50 jenis teh yang berasal dari berbagai lapisan wilayah pada 1 (satu) tempat kedai minum. Akan tetapi, Pak Bambang Laresolo, 51, mampu menyajikan kenyataan tersebut. Memang tidak mudah sih awalnya. Identifikasi perilaku yang ada harus benar-benar perhatian pada berbagai tahapan yang diperlukan.   Berangkat dari keluarga desa! Teh bermerek 999, teh gopek, dan teh cap sepeda balap dinyatakan oleh Bambang kecil sebagai komposisi kekayaan alam terbaik untuk nya dalam mengenal ritual tradisi meminum teh. Sederhana sekali, ternyata. Itulah yang kemudian disebut sukses, karena terciptanya harmonisasi antara pengetahuan, bisnis, loyalitas, keluarga, kerja dan konsep.   Alumnus D3-UGM makin konsisten untuk serius bekerja saat Kedai Teh Laresolo terbentuk pada pertengahan 2010 di komplek Agripark, Bogor. Tidak segan, ia pun rajin melewatkan perguliran waktu dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang berbagai rupa informasi yang berhubungan dengan fungsi, manfaat, sejarah teh dan filosofinya. Jadi wajarlah bila rata-rata omzet yang dapat digapai oleh Kedai Teh Laresolo, yaitu: Rp. 2 juta / hari.
Nggodhog Wedang Teh bersama 50 jenis Racikan dari Kedai Teh Laresolo,
Mengapa Tidak ????
Terlintas di benak kita tentang kedai teh. Bisa dibilang salah satu persinggahan istimewa yang menjanjikan dan tentunya senantiasa menghadirkan; suasana yang apik, olahan yang sangat berkaitan dengan tradisi Indonesia, serta cita rasa yang benar-benar alami saat dituai.

Catatan perjalanannya sekilas terlihat identik dengan perilaku umumnya kita. “Maaf yang ada cuma teh,” saat sang Ibu Rumah Tangga di tahun 80’an bergegas menghampiri para tamu yang datang. Kemudian dibuatkanlah sebuah Kedai Teh Lare Solo oleh Pak Bambang Mukhtar setelah ia belajar sekian lama mengenai sejarah teh dan filosofinya.

Wednesday, September 14, 2016

HAPPY BIRTHDAY setiap hari bersama Gaya Arsitektur Kue Tart dari Mas Arzet Zyetto, 21

Dapat dipastikan, perhatian pun semakin menggelora dari kalangan wanita saat Mas Arzet Zyetto, 21, mulai menampakkan konfigurasi terbaru akan bingkisan cake-nya. Belum lagi, gaya arsitektur olahannya yang tidak pernah membosankan, serta sajian kumpulan kata yang cukup gentle untuk tiap penerbitan.
HAPPY BIRTHDAY setiap hari bersama Gaya Arsitektur Kue Tart dari
Mas Arzet Zyetto, 21
Kreativitas dari generasi muda memang tidak akan pernah berhenti. Walaupun dibatasi oleh usia yang belum cukup mapan ataupun kapabilitas mental yang masih belia, mereka tetaplah sosok yang bisa dikatakan pantas untuk mengkreasikan barang-barang bernilai dan bahkan, hasilnya acapkali terlihat unik.

Hal ini berlaku juga bagi seorang anak desa dari Banjarnegara, Purwokerto, Jawa Tengah. Terkejut dong ? Masih muda dan baru mengawali aktivitas pembuatan kue pada “2/th yg lalu,” katanya kepada saya di Facebook chatting. Sekilas terlihat enggak mungkin deh, tapi penilaian kita pastinya langsung sangat percaya saat memperhatikan setiap posting-nya di Facebook account.

Monday, September 12, 2016

Muka Kayu Project melestarikan Lukisan Kayu dengan modal hanya Rp. 60 ribu

Siapa bilang? Uang sejumlah Rp. 60.000 tidak bisa menjahit LABA untuk masa depan kita. Bahkan omzet sebesar Rp. 10 juta per bulan ternyata jumlah pemasukan yang senantiasa wajar untuk dapat diterima.   Oleh sebab itu, saat ini makin banyak bermunculan para pengrajin produk wood painting atau lukisan kayu. Salah satu adalah Muka Kayu Project yang mendaftarkan usahanya untuk beberapa jenis kreasi hasil kerja, seperti: ucapan di atas kayu, dekorasi dinding, gantungan kunci, jam kayu, bahkan tatakan gelas kayu untuk souvenir pernikahan.   Terbukti hanya dalam kurun waktu 1 (satu) tahun kerja, Muka Kayu Project telah menjangkau pelanggan sampai ke 10 propinsi lebih. Hanya menggunakan sebuah kuas, bahannya kayu dan cat lukis saja. Ini lukisan telah menyampaikan ribuan pesan sederhana untuk berbagai kenangan yang diharapkan oleh konsumennya. Selain itu, sentuhannya selalu mengutamakan pewarnaan secara natural.
Muka Kayu Project melestarikan Lukisan Kayu dengan modal hanya
Rp. 60 ribu
Ada yang menarik untuk diperhatikan. Yakni, saat kumpulan sampah kayu terasa lebih berharga ketika diolah dengan bijak. Karya yang dihasilan pun dianggap memiliki kualitas yang sesuai saat pelestarian budaya itu diharapkan.

Hanya menggunakan sebuah kuas, bahannya kayu dan cat lukis saja. Ini lukisan telah menyampaikan ribuan pesan sederhana untuk berbagai kenangan yang diharapkan oleh konsumennya. Selain itu, sentuhannya selalu mengutamakan pewarnaan secara natural.

Saturday, September 10, 2016

Pesona Kopi Luwak olahan Pak Imam Mukhlis. Memang berasal dari Sunrise of Java

Selekasnya tangan-tangan terampil tidak pernah berhenti tuk memilah biji kopi. Lalu di sisi lain, mereka pun biasa menghasilkan Kopi Luwak yang legit dan istimewa. Salah satunya tersedia diantara kaki Gunung Raung dan Gunung Ijen.   Pak Imam Mukhlisin adalah pemilik dari lahan kopi seluas 2 hektar di Dusun Krajan, RT 2 RW 2, Desa Tlemung, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Dimulai pada bulan Agustus 2012, Kimmy Omah Kopi diterbitkan guna menghasilkan racikan kopi dengan resep khusus untuk masyarakat luas.   Perkebunan kopi milik keluarga Pak Imam Mukhlisin juga menyediakan sebuah rumah singgah atau home stay bagi tamu yang berniat tinggal untuk beberapa waktu. Dari sini para tamu dipandu oleh pemandu bila ingin berjalan-jalan ke area perkebunan. Setelah itu, mereka pun diajak untuk mengamati proses penggilingan kopi, pemilihan biji kopi, sampai pemanggangan kopi. Dan juga merasakan beberapa olahan makanan tradisional yang telah dihidangkan.
Pesona Kopi Luwak olahan Pak Imam Mukhlis. Memang berasal dari
Sunrise of Java
Dibalik secangkir kopi yang nikmat, pasti ada tangan terampil yang pernah mengurusnya. Entah itu beberapa petani yang telah sekian memiliki pengalaman meracik atau sekedar buruh yang bekerja untuk sedikit rupiah.

Selekasnya tangan-tangan terampil tersebut tidak pernah berhenti tuk memilah biji kopi. Lalu di sisi lain, mereka pun biasa menghasilkan Kopi Luwak yang legit dan istimewa. Salah satunya tersedia diantara kaki Gunung Raung dan Gunung Ijen dan saya berani menjamin informasi itu benar.

Thursday, September 8, 2016

Terima Kasih Pemerintah RI, Karena Mbak Intan Hapsari, 23, Bisa Menjahit Laba dari Uang Jajannya

Setiap wanita tentu ingin tampil cantik, tak terkecuali wanita yang menggunakan kerudung. Nah, kebutuhan ini ternyata membuka sebuah celah jasa bagi pengusaha yang ingin mengkreasikan hijab nan indah.   Mbak Intan Hapsari, 23, salah satu perancang menuturkan bila pemesanan akan produknya yang bernama Agniya Collection, kian sering berdatangan. “Dulu awalnya saya itu dikasih uang jajan sama ibu bulanan. Pas awal bulan, uangnya agak banyak.  Saya berpikir untuk putar uangnya,” jelasnya tentang perihal MODAL AWAL sebesar Rp. 500 ribu.   Hingga suatu saat, Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan program pelatihan bagi Wirausahawan Pemula. Hasilnya pun seperti yang ia inginkan. Proposal yang diajukan mendapatkan persetujuan dari panitia dan dia mendapatkan modal gratis sebanyak Rp. 14 Juta. Kemudian 3 tahun kemudian, pemasukan sebesar Rp. 6 juta sampai dengan Rp. 7 juta perbulan merupakan jumlah yang wajar ia terima untuk setiap bulannya. Belum lagi, 25 mitra yang tersebar di 10 Kota. Sungguh penegasan hasil karir yang sangat diidamkan oleh berbagai lapisan pelajar di Indonesia.
Terima Kasih Pemerintah RI, Karena Mbak Intan Hapsari, 23, Bisa Menjahit
Laba dari Uang Jajannya
Konsep bisnisnya mudah-mudah saja. Ngambil untung sedikit agar langgeng dan semakin banyak pelanggan. Buktinya, banyak para konsumen balik lagi membeli, karena kualitas barangnya tidak murahan.

Melalui strategi ini, Mbak Intan Hapsari berhasil memungkinkan segala ide dagangnya telihat selalu ramai. Tidak terlepas juga, peran pertumbuhan jualan Hijabnya terasa semakin lebih baik berkat dukungan positif dari program Kewirausahaan yang diadakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM.

Tuesday, September 6, 2016

Tak hanya Sukses di Kerajinan Miniatur, Mantan TKI ini berhasil Menolong para Pengangguran

Setiap orang bisa berkarya walaupun ia hanyalah seorang mantan TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Berangkat ke Timur Tengah pada tahun 1990 dan kembali pada 7 tahun berikutnya. Kemudian ia segera merintis usaha Shally Handycraft pada tahun yang sama dengan bermodalkan uang sebesar Rp. 5 juta.   Berkat kretivitas yang dimiliki, Pasar hasil kerajinan limbah kayu yang dihasilkan oleh Pak Slamet Widodo, 47, berhasil merambah pasar dalam negeri maupun Internasional. Sebut saja: Negara Iran, Malaysia, dan India, serta berbagai produsen yang terdapat di benua Eropa. Catatan  sebesar Rp. 160 juta merupakan angka yang wajar untuk dikatan Omzet yang biasanya ia terima pada setiap bulannya.   Cerdas kiranya saya katakan bila kita berbicara tentang kemampuan Pak Slamet dalam hal menjaga hubungan kerja. Semua produksinya dikerjakan oleh warga di sekitar kediaman terutama pemuda desa yang menganggur. Tercatat hasil pengolahan kemanusiaan sampai hari ini, banyak dari mereka sudah keluar dan mengikuti Jejak Pak Widodo guna membuat usaha kerajinan. Tentu, hubungan mereka tidak pernah berhenti sampai saat ini.
Tak hanya Sukses di Kerajinan Miniatur, Mantan TKI ini berhasil Menolong
para Pengangguran
Untuk menjadi mantan TKI yang sukses bukanlah perkara mudah, akan tetapi juga tidak sulit. Hal tersebut tentunya bisa terjadi karena mereka orang kampung. Yakni sosok yang selalu aktif dan seringkali tidak mengenal gengsi saat bekerja.

Apa saja rela mereka kerjakan, seng penting mampu digunakan sebagai penyambung hidup. Buktinya, kompetensi tertentu yang mencakup keterampilan akhirnya berhasil membentuk suatu kenyataan. Pak Slamet Widodo pembuat berbagai motif etnik berbahan kayu.

Saturday, September 3, 2016

Gun Gun Gunawan, 39, memproduksi Sepeda Bambu untuk Pasar Asia, Amerika, dan Eropa

Melalui kerja keras dan analisa, Pak Gun Gun Gunawan, 39, bisa membalikkan fungsi harga bambu dari RP. 50.000 menjadi Rp. 7,5 juta per unit. Bahkan Rp. 30 juta untuk pasar Eropa. Padahal dulunya, ia hanyalah seorang KULI BANGUNAN.   Nilai-nilai estetika yang tinggi pun serta merta hadir saat karya Sepeda Bambu dari Haur Bike Nglasari melantunkan berbagai macam perepsi akan ramah lingkungan. Antusiasisme ratusan ribu pelanggan dari Benua Asia, Eropa, dan Amerika tidak pernah berhenti untuk mengisi seluruh daftar pesanan di sepanjang tahun 2009 s/d 2016.   Bagaimana cerita selanjutnya? Pastinya semua proses kerja dilakukan secara manual 90%. Dapat diperkirakan tenaga kerja dari Haur Bike memerlukan waktu selama 70 jam kerja atau 10 hari untuk menghasilkan 1 unit sepeda dari 1 orang pekerja. Jadi jumlah pengrajin sebanyak 40 orang dipastikan mampu menghasilkan 34 - 40 unit untuk tiap bulannya.
Gun Gun Gunawan, 39, memproduksi Sepeda Bambu untuk Pasar Asia,
Amerika, dan Eropa
Anyaman tradisional yang berasal dari bambu merupakan salah satu jenis dari berbagai macam hasta karya yang ada di Indonesia. Hal tersebut bisa terjadi karena ketersediaan bahan baku yang sangat melimpah.

Nilai-nilai estetika yang tinggi pun serta merta hadir pada suatu karya berbahan bambu saat melantunkan berbagai macam persepsi akan ramah lingkungan. Selain itu, fungsi dan manfaatnya memiliki begitu banyak keistimewaan. Mengingat rumah bambu juga tahan gempa.

Di lain sisi, identifikasi akan bambu juga memiliki ketidak istimewaan. Bambu seringkali diduga sebagai ornamen tradisional yang mencerminkan kesan kemiskinan dan keterbelakangan. Mungkin saja animo tersebut bisa terjadi karena kurang menyentuhnya perhatian yang Bambu miliki ke berbagai kelas KENDARAAN di masyarakat.

Thursday, September 1, 2016

Perhiasan yang Anggun untuk Nusantara dari Ibu Eliana Putri Antonio, 43, dan EPA Jewel

Ibu Eliana Putri Antonio, 42, selalu membawa sentuhan yang unik untuk semua aspek pada tiap kreativitasnya. Padahal ia tidak pernah memimpikan untuk memulai bisnis perhiasan yang saat ini ia geluti.   Sejak bulan Juli tahun 2012, ketekunan dan niat untuk serius menghadirkan sebuah toko perhiasan yang bernama, EPA Jewel. Karyanya pun selekasnya hadir ke berbagai wilayah di Benua Asia, Eropa dan Amerika.   Bersama 8 orang pengrajin yang setiap harinya membantu anak bungsu dari 3 bersaudara tersebut. Unsur klasik, glamour, etnik, dan gaya ukiran acapkali hadir untuk menjadi kunci pada seluruh maha karya dari EPA Jewel. Tujuannya agar perhiasan terlihat modern tetapi masih mencerminkan kharakter tentang budaya khas Nusantara.
Perhiasan yang Anggun untuk Nusantara dari Ibu Eliana Putri Antonio,
43, dan EPA Jewel
Perihal tumbuhnya rasa percaya diri seringkali hinggap tuk menambah khasanah senyum yang sangat manis. Tidak terkecuali, para lelaki pun sangat terpesona saat sang pasangan membiarkan dirinya menari diantara tampilan suatu wacana indah dari perhiasan.

Selain mudah dijual kembali, resiko yang dimiliki terbilang cukup rendah. Bahkan pengusaha perhiasan dari usaha skala kecil, menengah hingga besar tampak begitu rajin untuk terus berinovasi dalam merancang dan menciptakan aksesoris yang digemari oleh pasar.

Label

Agama Air Minum Alat Musik Alumunium Angklung Artis Asmara Automotif Bahan Bakar Bali Bambu Bandung Bank Bank Sampah Barang Bekas Batam Batik Becak Beras Besakih Biola Blogspot Boneka Buah-buahan Budaya dan Tradisi Buka Lapak Buku Bunga Burger Burung Cafe Charlie Tjendapati CNBC Cobek Dandung Santoso Daur Ulang Desa Desain Dodol E-mail Eceng Gondok Edie Juandie Ekonomi dan Perdagangan Es Krim Facebook Flipboard Flora dan Fauna Fruit Carving Furnitur Gadget Gamelan Garam Gerai Gerobak Gitar Google Plus Gula Hari Raya Harian Merdeka Haryadi Chou Hewan Hiburan dan Wisata Hidayah Anka Hidroponik Hijab Hotel http://www.duahari.com Hukum dan Politik Indra Karyanto Instagram Internet Internet Marketing ITB Jagung Jajanan Jamu Jamur Tiram Jangkrik Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Jepang Kain dan Pakaian Kaleng Kalimantan Kamera Kapal Laut Karaoke Kartun Kecantikan Kecap Keju Kelautan Kelinci Kemasyarakatan Kendaraan Kerajinan Kereta Kertas Kiat dan Tip Kisah Hidup Koki Komputer dan Teknologi Kopi Koran Kuda Pustaka Kuliner Kulit Kumpulan Kurir LA Time Laptop Si Unyil Lidah Buaya Linkedin Liputan 6 Logam Lukisan Kayu Madu Mahasiswa Mainan Anak-Anak Makanan dan Minuman Malang Martabak Masyarakat dan Persoalannya Matras Melukis & Menggambar Metro TV Mineral Miniatur Minyak Atsiri Mitra Mobil Motor Musik Nana Mulyana Narapidana Net TV Ngatmin Biola Bambu Obat dan Kesehatan Olah Raga Ondel-Ondel Online Organik Organisasi Sosial Pameran Panama Papers Pantang Menyerah Papan Selancar Paper Quilling Pariwisata Peluang Usaha Pemulung Pencucian Pendidikan Penelitian Penemuan Penyanyi Penyiar Peralatan Perhiasan Perikanan Permainan Perpustakaan Pertanian dan Perkebunan Perumahan Peternakan Pinterest Plastik Proses Produksi Psikologi dan Mental Putu Gede Asnawa Dikta Puyuh Radio Rancangan Rendang Resep dan Masakan Restoran Robot Roti Salak Sambal Sampah Sandal Sapi Sayur Mayur Sejarah dan Peradaban Sekolah Semarang Seni Seni Pahat Sepatu Sepeda Sindo News Slamet Triamanto Spa Strikingly Suprapto Surabaya Surat Kabar Tahun Baru Tas Tattoo Techno Park Teh Tekhnologi Televisi Telur Terrarium Tukang Cukur Tumang Twitter Venta Agustri Vespa Wanita dan Keindahan Wawancara Wayang Website Wetz Shinoda What's Up Wine Wordpress Yoga Yogyakarta You Tube