Pages

Thursday, June 9, 2016

Dahulu Makan Roti Basi: Kini! Pak Tirta Mandira Hudi Memiliki 20 Toko Pencucian Sepatu

Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.
Dahulu Makan Roti Basi: Kini! Pak Tirta Mandira Hudi Memiliki 20
Toko Pencucian Sepatu

Saat kehidupan perkotaan dianggap penting pada awal tahun 1980’an, sepatu telah terpilih sebagai bagian nilai paling sakral dari gaya hidup. Kemanapun warga mereka melangkah, alas kaki yang dikatakan sepatu acapkali menunjang penampilan seseorang. Tentu perawatan untuk kebersihan sepatu merupakan perihal terfavorit untuk menjadi kebiasaan yang wajib.

Masalahnya, ketika sebagian orang berusaha membersihkan debu dan noda yang menempel. Kenyataan tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah. Bahkan terkadang, sepatu yang kotor sulit untuk dibersihkan dan tak cukup hanya menggunakan sikat pembersih.

Jadi solusinya, kalau anda tidak sempat atau bingung merawat sepatu. Anda tak perlu khawatir lagi. Saat ini ada beberapa binatu sepatu yang bisa membantu. Salah satunya adalah gerai ‘Shoes and Care (SAC),’ milik Pak Tirta Mandira Hudi, 25. Seorang yang telah lulus dalam menempuh bangku kuliah di Universitas Gajah Mada untuk Fakultas Kedokteran.

Pengetahuan tentang sepatu serta kegemaran mengoleksi sepatu seringkali menjadi bekal mereka ketika merintis usahanya. Akan tetapi Pria kelahiran Surakarta, 30 Juli 1991 sangat berbeda, "Saya ini otodidak, melihat dari YouTube seperti apa sih mencuci sepatu yang baik itu," ungkapnya kepada Kompas, 1 Juni 2016.

Pak Tirta mengawali langkahnya dengan membuka jasa jual beli sepatu di emperan kos-kosan. "Tahun 2010 saya juga buka usaha jual beli sepatu, dan justru di situ juga gagal," ucapnya dan seraya menambahkan, "Pada waktu itu yang menjadi problem adalah membeli electronic book, buku-buku medis yang harganya mahal. Saya tidak ingin merepotkan orangtua dengan mengandalkan uang saku, jadi bertekad mencari uang sendiri."

Kegagalan demi kegagalan dalam berusaha membuatnya benar-benar tidak memiliki uang lagi. Tuturnya dengan nada yang berat, "Benar-benar tidak ada uang, seminggu saya makan roti basi. Saya merefleksikan diri, apa yang salah dengan usaha itu, kenapa sampai gagal."

Usai 1 tahun bangkrut, Tirta mengumpulkan lagi sisa-sisa dagangannya yang tidak sempat dibeli oleh konsumen. Barang tersebut dibersihkan, kemudian di jual kembali. “Dari pengalaman membersihkan sepatu tadi, saya sedikit banyak jadi tau ilmu membersihkan sepatu," terang Pak Tirta kepada Harian Merdeka.

Secara tak sengaja di esok harinya, Pak Tirta membeli cairan pembersih sepatu bermerek Jason Mark seharga Rp. 400 ribu, padahal saat itu uangnya tinggal Rp. 700 ribu. Namun setelahnya, dia merasa bila harga sebesar itu ditambah ongkos kirim adalah pemborosan. Tidak tahu mengapa, kemudian Tirta langsung menawarkan kepada rekan-rekannya sesama penjual sepatu untuk menggunakan produk pembersih yang telah dia beli. Responnya sangat positif dan mereka bersedia patungan guna menanggung 3/4 biaya dari harga belinya.

Terlihat ada jalan. Namun dalam sekejap, hambatan kembali datang menghampiri dirinya. Keinginannya untuk mengembangkan usaha, padahal baru saja ditemukan penyelesaiannya. Kenyataan manis tersebut harus ditunda karena ia disibukkan oleh praktek di berbagai rumah sakit guna mencukupi persyaratan kelulusan. Tidak hanya masalah internal. . . . . . .

Masih ingatkah anda akan meletusnya Gunung Kelud pada tahun 2014? Peristiwa yang sangat membuat panik wilayah DIY dan sekitarnya. Berbagai debu vulkanik yang cukup tebal membungkus wilayah Yogya dan begitupun juga, puluhan sepatu milik Pak Tirta di tempat Kos.

Selekasnya di saat reda, dia mencuci seluruh sepatu miliknya dan tidak sedikit teman-teman satu kosnya meminta untuk sepatu mereka untuk dibersihkan juga. “Dari situlah tercetus ide membuka jasa perawatan sepatu tetapi dengan harga terjangkau dan terbuka untuk semua jenis bahan sepatu,” ungkapnya kepada Majalah Swa, 7 Januari 2016. Saat ia bertamu ke kantor Swa di Jl. Mendawai 1, Jakarta Selatan.

Dengan minimnya pengalaman dan cara menggunakan obat pembersih sepatu produksi Amerika, Pak Tirta tetap mampu melihat peluang emas dari suatu jasa pencucian sepatu. Dia melakukan percobaan pada teman-temannya sesama mahasiswa sebagai target awal konsumen pengguna jasanya. “Penghasilan saya waktu itu sekitar Rp. 1,5 juta hingga Rp. 2 juta tiap bulan. Cukup untuk menambah uang saku saya sebagai mahasiswa,” ucapnya kepada Harian Kompas, April 2015, penuh dengan harapan.

Karena masih dalam kategori percobaan, Pak Tirta menawarkan jasa baru tersebut di sepanjang emperan kos. Saat jeda ia pergunakan waktu luangnya untuk mempromosikan usaha pencuciannya melalui Twitter dan Instagram setelah mendaftarkan dirinya menjadi anggota. Wow! Setelah tahu, para pelanggan terutama yang bertempat tinggal disekitar kos-kosan begitu antusias untuk mendaftarkan diri menjadi konsumen.

Atas dasar fenoma yang diterima, Pak Tirta memutuskan untuk membuka toko perdananya pada September 2014 yang berlokasi di Alun-alun Kidul Yogyakarta dan kenyataan yang ada bertepatan dengan momen ulang tahun Yogyakarta. Modal awalnya adalah Rp. 25 Juta, dia keluarkan untuk mencukupi biaya operasional, sewa tempat untuk toko dan desain interior. Akal kreatif pun kembali muncul, “Saya buat promo, Jogja Free Wash. Saya sebenarnya gambling saja, kalau laku ya syukur, kalau tidak ya anggap aja pelajaran memulai usaha,” jelasnya santai.

Tak sesuai perkiraan memang. 200 barisan manusia dengan jumlah 1.200 orang mengantri di depan tokonya. Padahal tenaga kerjanya saat itu hanya berjumlah 3 orang dan Shoes and Care (SAC) hanya mampu mengakomodir 600 pasang sepatu untuk tempo waktu tiga jam. Menurut keterangan dari Harian Kompas, penghasilan Pak Tirta pun segera bertambah menjadi Rp. 8 – 10 juta. . . . . . .Kalau boleh melihat kebelakang sedikit: Sepertinya, korban letusan gunung Kelud tidak hanya orang dan lingkungan. Tapi sepatu kesayangan juga ikut menjadi korban.

Selang beberapa bulan dengan bermodalkan pendapatan yang disisihkan, Pak Tirta membuka gerai baru yang masih berlokasi di areal kota Yogyakarta. Namun kembali, kenyataan meningkatnya konsumen dari luar Yogya menjadikan dia bertambah kaget. Akun Twitter dan Instagramnya membuka permintaan seluas-luasnya untuk pemesanan jasa pencucian sepatu dari luar Yogya. Pasar luar negeri; Australia dan Singapura dan dalam negeri, yaitu Jakarta dan Surabaya.

Antusiasisme yang begitu tinggi dari para pelanggan membuat rekan-rekannya sesama wirausahawan Yogya menggelar kompromi. Sebagai pemula, ia mengaku sangat berhati-hati dan selekasnya dia mengklarifikasikan perihal kemampuannya, “Saya pengusaha daerah, kalau ke Jakarta tidak total maka akan hancur usaha ini. Berbeda dari usaha atau merek yang dari Jakarta masuk ke daerah, sepertinya lebih mudah diterima.”

Hari terus berjalan dan waktu terus menuntun. Akhirnya Pak Tirta memberanikan diri untuk memperluas jumlah tokonya ke jalan Mendawai, Jakarta pada bulan Maret 2015 setelah menemukan tim yang cocok (Ha! Hanya dalam waktu 1 tahun). Website untuk usahanya telah terbentuk: www.shoesandcare.com: Jadi para konsumen bisa langsung menonton cara kerja Shoes and Care. Saat itu, beberapa temannya khawatir karena kinerja Video pada website dianggap telah membuka dapur selebar-lebarnya. “Tetapi, sebagai pecinta sepatu, saya tentu ingin tahu sepatu kesayangan saya diapain saja selama perawatan? Dikasih chemical apa? Seperti itu,” imbuhnya mensyukuri hidup yang telah dimiliki. Kemudian ia menambahkan, “Justru pelanggannya akan kian loyal jika ditampilkan videonya.”

Ternyata benar bila kejujuran yang dia perjuangkan telah mampu menambah kepercayaan untuk menghasilkan kolega baru. Berkembangnya 20 gerai anyar dengan sistem kemitraan tersebar secara teratur di beberapa propinsi: Panglima Polim untuk Jakarta, Bintaro untuk Tangerang, Bekasi, Solo, Medan, Palembang, Bandung, dsb. Jadi, omzet setiap gerai bisa menembus angka Rp. 30 – 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 150.000 per pasang. Serta saat ini! Melalui program yang bernama Androws, rencana jangka panjang perusahaannya adalah mempersiapkan diri untuk membuka toko pencucian dan perawatan sepatu di Singapura.

Benar-benar kisah sangat menarik telah disuguhkan secara baik oleh Dr Tirta Mandira Hudi tentang perjalanan suatu karir bisnis. Sekarang, Bagaimana selanjutnya setelah 6 tahun? “Tompi saja bisa, kenapa saya tidak? Hehehe…..” Seraya dia menguraikan secara singkat tentang nilai-nilai idialisme sederhana dari profesinya sebagai dokter, “Profesi dokter saya rasa kurang tepat kalau diniatkan untuk mencari uang. Dokter itu pekerjaan humanis, sedangkan bisnis benar-benar cari profit.”

Website: www.shoesandcare.com
Facebook: https://www.facebook.com/shoesandcare/
Instagram: https://www.instagram.com/shoesandcare/
Twitter: https://twitter.com/shoesandcare



Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.

Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.

Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.

Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.

Setelah 6 tahun, omzet setiap gerai Shoes and Care (SAC) bisa mencapai angka Rp. 30 - 60 juta per bulan, melalui tarif jasa sebesar Rp. 30.000 s/d Rp. 15.000 per pasang.

No comments:

Post a Comment

Waktu begitu cepat berlalu mengiring langkah dalam cerita. Terbayang selalu tatapanmu dalam lingkaran pemikiran positif ku. Para pembaca blog Warga Desa (https://warga-desa-worlds.blogspot.com) adalah teman yang terindah. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar.